Pembatalan kunjungan kenegaraan

Belanda Gelar Pengadilan HAM, SBY Batal

Kompas.com - 05/10/2010, 14:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meyakini, kunjungannya ke Belanda yang semula dijadwalkan akan berlangsung pada 6-8 Oktober 2010 akan menjadi tidak enak menyusul disidangkannya dugaan kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) Indonesia di Maluku dan Papua oleh Pemerintah Belanda.

Dengan alasan itu, Presiden lantas memutuskan untuk membatalkan rencana kunjungannya ke Belanda. "Tadi Bapak Presiden menyampaikan langsung kepada anggota delegasi bahwa kunjungan kenegaraannya batal dilakukan karena bersamaan dengan dimulainya pengadilan pelanggaran HAM, di antaranya menyangkut kasus di Maluku dan Papua," kata seorang pejabat di lingkungan Istana Kepresidenan kepada Kompas melalui sambungan telepon, Selasa (5/10/2010).

Dalam kesempatan tersebut, Presiden menyampaikan keputusan pembatalan rencana kunjungan terhadap semua anggota delegasi yang dijadwalkan bertolak hari ini. "Selain tidak enak, kondisi tersebut diyakini Presiden akan mengganggu kerja sama yang akan dilakukan antara Indonesia dan Belanda.

Saat berita ini diturunkan, Presiden tengah memberikan penjelasan langsung kepada media di ruang VIP Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau