Dituduh Makar, Thailand Menahan 11 Orang

Kompas.com - 05/10/2010, 17:14 WIB

BANGKOK, KOMPAS.com - Pihak berwenang Thailand telah menahan 11 orang yang dicurigai terlibat dalam gerakan untuk menumbangkan kerajaan Thailand dan berencana membunuh tokoh-tokoh penting di negara itu.

Calon komandan polisi wilayah 5 provinsi, Mayjen Pol Chaiya Siriamphankul mengatakan, 11 orang tersebut ditahan di satu resor di distrik Mae On, Chiang Mai dan mereka terlatih baik dalam menggunakan senjata.

"Para tahanan terlibat gerakan untuk merusak keamanan nasional dan merancang akan membunuh tokoh sangat penting negara di samping menumbangkan kerajaan," kata Mayjen Pol Chaiya Siriamphankul, Selasa (5/10/2010).

Dia menambahkan, investigasi kini sedang dilakukan untuk mengejar kaki-tangan mereka di wilayah timur laut dan timur.

"Ke-11 orang itu kini berada di bawah skema perlindungan saksi untuk mengungkapkan lebih banyak lagi informasi kepada pihak berwenang," kata Jenderal Chaiya.

Pejabat Kepala Kepolisian Metropolitan Bangkok, Mayjen Chakthip Chaijinda Senin mengatakan, dia mengirim sebuah tim investigasi ke Chiang Mai untuk membantu kepolisian provinsi dalam memeriksa tersangka, yang kemungkinan berusaha untuk mengganggu ibu kota.

Pemimpin utama Kaos Merah Chiang Mai, Sersan Klas Tiga Pichit Tamool Senin membantah ke-11 tersangka itu anggota Persatuan untuk Demokrasi Melawan Kediktatoran (UDD) dan para pejabat negara membuat cerita untuk menimbulkan dampak buruk kepada gerakan Kaos Merah.

Dalam perkembangan lain, seorang tukang sepatu Senin ditahan setelah mengaku kepada polisi bahwa dia membuat ancaman bom melalui telepon kepada Rumah Sakit Siraraj, tempat Raja Adulyadej di rawat.

Komandan Divisi I Biro kepolisian Metropolitan Bangkok, Majyen pol Wichai Sangprapai mengatakan, tukang sepatu itu tidak menunjukkan gangguan jiwa selama dalam pemeriksaan.

Jenderal Wichai mengatakan, polisi telah mengundangnya untuk diperiksa karena ancaman bom itu, dan mereka tak bisa menahannya jika pengadilan tidak menyetujui mengeluarkan surat perintah penangkapan.

"Sebenarnya, kami mendapati dia sebagai orang normal, tidak berpenyakit jiwa sebagai diduga sebelumnya."

"Dia seorang tukang sepatu dan polisi telah membuktikan indikasi bahwa dia adalah pelakunya. Namun kami belum bisa menjelaskan alasan-alasan tindakannya itu, tapi dia telah membuat pengakuan," kata komandan polisi itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau