Pembatalan kunjungan presiden sby

Gayus: Pembatalan Presiden SBY Memalukan

Kompas.com - 05/10/2010, 17:57 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI-P, Gayus Lumbuun, menilai tindakan pembatalan kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Belanda dengan alasan adanya pengadilan yang meminta penangkapan terhadap dirinya sebagai tindakan yang sangat memalukan.

"Ini sangat memalukan. Kalau alasan terorisme itu masih bisa dipahami. Kalau ini sangat fatal," kata anggota Komisi III DPR F-PDI-P, Gayus Lumbuun, Selasa (5/10/2010) di Jakarta.

Sebelumnya, Presiden SBY menggelar jumpa pers mengenai pembatalan kunjungannya ke Belanda. Kunjungan Presiden ke Belanda tersebut atas undangan PM Belanda dan Ratu Beatrix.

Salah satu agenda dalam kunjungan tersebut adalah menerima surat pengakuan kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.

"Ini kesalahan sangat fatal yang dilakukan Presiden SBY. Presiden hanya berdasarkan informasi yang tak dilatarbelakangi pengetahuan hukum litigasi," kata Gayus.

Lebih lanjut, Gayus menjelaskan bahwa proses persidangan tersebut merupakan proses biasa dalam pengadilan.

Menurut Gayus, pengadilan di Belanda tersebut juga belum tentu mengabulkan tuntutan itu.

Dalam hubungan diplomatik internasional, kata Gayus, penangkapan kepala negara sahabat adalah sesuatu yang tidak mungkin.

"Dalam hal ini tak mungkin penangkapan dilakukan. Jadi, kenapa mesti takut?" kata Gayus.

Menurutnya, keputusan Presiden SBY ini akan ditertawakan oleh negara-negara lain.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau