TRENGGALEK, KOMPAS.com - Sekitar 2.152 hektare tanaman palawija yang tersebar di lahan-lahan pertanian dan perkebunan di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, dipastikan gagal panen (puso) akibat hujan lebat yang terus mengguyur kawasan ini sejak dua bulan terakhir.
Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan (DPKP) Trenggalek, Joko Surono, Selasa (5/10/2010) menaksir kerugian akibat anomali cuaca musim ini mencapai Rp 3,9 miliar lebih.
Kerusakan lahan pertanian paling parah terjadi pada jenis komoditas tanaman pangan dengan luas mencapai 2.152 hektare.
Sementara untuk jenis tanaman hortikultura dan perkebunan, masing-masing mengalami kerusakan seluas 46 hektare dan 5 hektare.
"Untuk jenis tanaman pangan yang mengalami kerusakan paling parah, semuanya didominasi tanaman palawija. Lainnya adalah tanaman hortikultura seperti kacang panjang, cabe, mentimun, terong, serta tembakau," katanya menjelaskan.
Sebagian tanaman palawija memang berhasil diselamatkan dengan cara melakukan panen dini saat perubahan cuaca ekstrem mulai terjadi, awal Agustus lalu.
Namun upaya itupun tidak sepenuhnya berhasil maksimal. Terbukti, dari total luas lahan tanaman pangan yang mencapai 3.127 hektare, hanya 975 hektare yang berhasil diselamatkan, itupun dengan kualitas panen kurang sempurna.
Kondisi lebih parah terjadi pada sektor tanaman hortikultura.
Meski luasnya menurut data DPKP hanya 46 hektare, nyaris semua tanaman produksi seperti cabe, kacang panjang, mentimun, dan terong yang ditanam petani setempat rusak parah sehingga tidak bisa dipanen.
"Kerugian untuk sektor tanaman hortikultura mencapai Rp 115 juta lebih, sedangkan pada tanaman tembakau dengan luas 5 hektare, kerugiannya kami taksir sekitar Rp 256 juta," kata Joko sambil menunjukkan hasil rekapitulasi kerusakan lahan pertanian yang dicatat DPKP.
Mengatasi dampak anomali cuaca ekstrem tersebut, Joko mengaku dinasnya telah berusaha maksimal membantu petani dengan mengerahkan pompa penyedot air pada lahan-lahan pertanian yang terendam banjir.
Biaya yang dikeluarkan untuk itu juga cukup besar. Namun kenyataannya, hasil dicapai sama sekali tidak maksimal.
Meski sebagian air bisa dikeluarkan dari areal pertanian/perkebunan, tanaman yang telanjur terendam tidak bisa dipanen.
"Kami akhirnya mengarahkan pada para petani untuk mengganti seluruh tanaman palawija mereka dengan tanaman padi. Semoga saja cuaca tidak berubah lagi," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang