Jangan Sembarangan Pakai Sampo Rambut

Kompas.com - 06/10/2010, 10:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Seperti halnya kulit wajah, rambut Anda juga membutuhkan perawatan rutin. Perawatan ini perlu untuk mencegah terjadinya kerontokan.

Eddy Karta, dokter spesialis kulit dan kelamin Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta bilang, perawatan rambut bisa dilakukan baik dari luar maupun dalam. Perawatan dari dalam bisa dilakukan dengan mengonsumsi makanan bergizi yang mengandung empat sehat lima sempurna.

"Bisa mengkonsumsi susu, karena susu mengandung banyak protein dan mineral yang dibutuhkan untuk kesehatan rambut," katanya.

Santi Sadikin, dokter konsultan estetika dari Klinik Kecantikan Esther House of Beauty menambahkan, perawatan dari luar bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan kulit kepala dan rambut.

Idealnya, kita keramas setiap dua sampai tiga hari sekali. Tetapi itu berlaku untuk rambut normal. Jika kulit kepala Anda cenderung berminyak, Santi menyarankan Anda untuk keramas setiap hari dengan Sampo yang memang aman digunakan setiap hari.

Menyesuaikan karakter rambut dengan jenis sampo ini sangat membantu mencegah kerontokan rambut. Soalnya, jika salah sampo bukan rambut indah yang didapatkan tapi justru dapat menyebabkan kerontokan.

Tapi, jangan takut. Saat ini sudah banyak tersedia sampo yang khusus dibuat untuk jenis rambut tertentu. "Tujuan sampo ini memberi proteksi khusus bagi jenis rambut tertentu," kata Santi.

Santi menyarankan Anda menggunakan Sampo dengan kadar asam (ph balance) seimbang. Keterangan ph balance ini bisa ditemukan pada label sampo yang kita gunakan.

Selain penggunaan sampo, pemakaian kondisioner juga tidak boleh berlebihan agar kepala tetap sehat. Kondisioner cocok digunakan oleh seseorang yang memiliki karakteristik rambut kering. Soalnya, kondisioner menjaga kelembaban dan menurunkan penguapan rambut.

Jika Anda mempunyai karakteristik rambut berminyak, Anda tidak disarankan menggunakan kondisioner. Soalnya, kondisioner malah bisa membuat minyak semakin banyak, bahkan menimbulkan masalah baru seperti ketombe sampai kerontokan.

Banyak orang beranggapan creambath dan hair spa bisa mengatasi kerontokan. Anggapan itu sama sekali tidak benar alias keliru. "Kedua jenis perawatan ini seharusnya hanya ditemukan pada rambut yang tidak bermasalah," kata Santi.

Creambath dan hair spa menggunakan teknik pemijatan yang cukup kuat di kulit kepala. Nah, cara perawatan ini malah bisa mencabut rambut sampai ke akarnya.

Jika rambut Anda mengalami kerontokan berlebihan, sebaiknya jangan hanya mengunjungi salon, tetapi bertandanglah ke rumah sakit atau klinik kecantikan. Sebab, perawatan rambut rontok bukan lagi sekadar masalah kecantikan tapi kesehatan kulit kepala dan rambut.

Ada beberapa terapi yang bisa digunakan untuk mengobati masalah rambut rontok. Salah satunya adalah hair stressed therapy. Terapi ini memfokuskan pada pijatan di punggung, ujung jari, sampai lengan. Tujuannya adalah melancarkan peredaran darah, di sekitar kepala sehingga rambut tumbuh dengan sehat.

Di kepala, biasanya, terapis hanya akan memberikan krim perawatan dan hair tonic. Ini bertujuan untuk memperkuat akar rambut.

Tapi ingat, rambut rontok bisa tumbuh kembali selama benih rambut masih ada di dalam kulit kepala. Jika benih rambut sudah tidak ada, rambut Anda tidak akan tumbuh kembali. Dalam kasus seperti ini, "Cara agar rambut kembali terlihat lebat adalah dengan cara transplantasi atau penanaman rambut," kata Santi lagi.

Artinya, berbagai produk kecantikan rambut seperti hair tonic atau vitamin rambut sebenarnya hanya bisa membantu menyehatkan akar rambut sehingga lebih kuat dan tidak mudah rontok. Produk-produk itu tidak mampu menumbuhkan rambut. (Sanny Cicilia Simbolon)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau