Rontok 100 Helai, Masih Wajar Kok

Kompas.com - 06/10/2010, 11:40 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Siapa sih yang tidak ingin memiliki rambut sehat dan indah? Punya rambut indah sama berharganya dengan mengenakan mahkota di kepala. Bedanya, mahkota yang satu ini sangat rentan.

Rambut rontok dan kebotakan memang momok yang menakutkan bagi setiap orang. Tak heran, berbagai masalah tersebut meski itu berarti harus mengeluarkan banyak biaya.

Sejatinya, kerontokan rambut wajar, karena rambut juga mempunyai siklus hidup. "Siklus hidup ini yang mempengaruhi pelepasan rambut secara normal," ujar Santi Sadikin, dokter konsultan estetika Klinik Kecantikan Esther House of Beauty.

Dalam kondisi normal, seharusnya, jumlah rambut yang rontok setiap hari tak lebih dari 45-100 helai. Bandingkan dengan jumlah rambut di kepala kita yang mencapai 100.000 helai.

Menurut Santi, siklus hidup rambut terbagi ke dalam tiga fase. Pertama, fase antigen atau fase pertumbuhan. Pada siklus ini, sehelai rambut bisa bertahan di kulit kepala hingga tiga tahun. Kedua, fase catagen atau istirahat. Di fase yang berlangsung sekitar tiga pekan ini, rambut berhenti tumbuh.

Ketiga, fase telogen atau fase pelepasan. Di fase ini, setiap rambut akan mengalami pelepasan dari kulit kepala. Proses ini terjadi dalam tiga bulan. Dalam keadaan normal, 90 persen dari keseluruhan rambut di kepala kita dalam fase pertumbuhan. Baru 10 persen sisanya mengalami fase istirahat pada waktu tertentu alias tidak bersamaan.

Faktor penyebab
Nah, masalahnya, rambut dan kulit kepala amat jarang berada dalam kondisi normal. Alhasil, masalah rambut rontok pun muncul. Santi menilai, rambut rontok di bawah 40 helai per hari masih normal. Tapi, kalau jumlah rambut rontok di atas 40 helai, si empunya rambut harus mengatasinya.

Eddy Karta, dokter spesialis kulit dan kelamin Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta memiliki acuan berbeda. Menurutnya, rambut rontok 100-150 helai per hari masih wajar. Tapi, jangan sampai kerontokan rambut yang terjadi sampai berujung pada kebotakan.

Di luar siklus normal, banyak faktor yang menyebabkan rambut rontok. Khusus di Indonesia, salah satu penyebabnya adalah iklim yang panas dan lembab. "Iklim tropis membuat kepala lebih mudah berminyak, kotor, dan berketombe" kata Santi.

Masalah kulit kepala juga bisa terjadi karena kekurangan gizi seperti protein, vitamin B, mineral seng, termasuk infeksi kulit kepala. Kalau salah satu dari hal itu terjadi, akar rambut pun menjadi mudah lepas.

Dia juga mengingatkan, kebiasaan mengikat atau menyasak bisa membuat akar rambut tertarik dan mudah lepas. Penggunaan bahan kimia, seperti sampo, pelembab rambut, pewarna rambut, serta obat pengeriting atau pelurus rambut juga mempengaruhi kesehatan akar rambut.

Obat-obatan pun bisa menjadi penyebab kerontokan. Contohnya ini terjadi  pada pasien penerima kemoterapi atau radioterapi. Bahkan, untuk sebagian orang, pil kontrasepsi, obat asam urat, obat radang sendi, obat depresi, dan obat darah tinggi bisa menjadi pemicu kerontokan rambut.

Penyebab lain adalah kelebihan hormon androgen (androgenic alopecia). Hormon ini biasanya menyerang kaum pria berusia di atas 30 tahun. "Biasanya, kebotakan terjadi di depan atau belakang kepala," jelas Santi.

Faktor terakhir adalah psikologis. Stres ternyata juga bisa memicu kerontokan pada rambut. (Sanny Cicilla Simbolon)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau