Tersambar petir

Lampu Penerang Bendung Katulampa Rusak

Kompas.com - 06/10/2010, 12:14 WIB

BOGOR, KOMPAS.com - Tiga buah lampu penerang jalan dan lampu penerang Bendung Katulampa mengalami kerusakan sehingga tidak bisa menyala, kondisi ini menyulitkan petugas pejaga mengawasi ketinggian air saat malam hari.

Kepala Penjaga Bendung Katulampa, Andi Sudirman yang ditemui, Rabu (6/10/2010) mengatakan, kerusakan tiga unit lampu jalan dan lampu Bendung Katulampa sudah terjadi sejak Juni lalu akibat petir saat hujan lebat mengguyur kawasan Bendung.

"Sudah hampir tiga bulan ini rusak, kita terpaksa menggunakan lampu senter saat ingin melihat ketinggian air, kita juga memasang lampu neon disekitar pintu air agar bisa melihat ketinggian air," kata Andi sambil menunjuk ke arah lampu yang terpasang ala kadarnya.

Andi menyebutkan ada tiga lampu penerang yang dipasang di sekitar Bendung Katulampa, dua lampu berfungsi sebagai lampu jalan dan satu lampu untuk penerang di pintu air.

Masing-masing posisi letaknya berbeda, satu lampu berada di menuju bendung berdekatan dengan kantor pejaga Bendung, satu lampu jalan lagi berada di atas bendung yang berfungsi menerangi jalan di atas bendung dan satu lagi lampu yang berfungsi untuk menerangi Bendung.

Tidak adanya lampu penerang di sekitar bendung menyulitkan petugas penjaga mengamati ketinggian air pada malam hari, apalagi saat hujan mengguyur deras menyebabkan ketinggian air betambah, petugas harus ekstra hati-hati saat membuka pintu air, ujar Andi.

Andi mengatakan, dirinya telah melaporkan hal tersebut kepada petugas di Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Kota Bogor sebagai instansi yang menangani Bendung Katulampa dan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang.

"Sudah dilaporkan, tapi baru secara lisan, hingga sekarang belum ada tanggapan. Dalam waktu dekat ini akan saya layangkan surat resmi pemberitahuan kerusakan ini," katanya.

Selain itu, kata Andi, kerusakan juga terjadi pada CCTV dan alat ukur otomatis yang hibahkan oleh Dewan Pertimbangan Presiden pada 2007 lalu.

Satu unit CCTV yang dipasang dekat meter pengukur ketinggian air rusak terkena petir, begitu pula alat ukur otomatis ketinggian air hanyut terbawa air bah pada bulan Februari 2010 lalu.

Andi menceritakan, air bah yang terjadi bulan Februari lalu membuat banyak eletronik di kantor pejaga bendung rusak, televisi dan dua pesawat radio orari rusak terbakar.

"Radio sudah diganti, untuk televisi saya bawa dari rumah saya untuk menggantinya," kata Andi.

Andi mengharapkan, pemerintah secepatnya melakukan perbaikan terhadap CCTV dan alat ukur otomatis yang rusak sejak Februari lalu. Karena menurutnya kedua alat tersebut sangat dibutuhkan dan membantu petugas mudah dalam memberikan informasi kepada petugas terkait ketinggian air.

Menurut Andi, keberadaan CCTV sangat bermanfaat memudahkan petugas mengawasi ketinggian air, karena CCTV sumbangan dari Telkom Pusat tersebut dapat diakses di internet sehingga petugas penjaga pintu air yang berhubungan langsung dengan Bendung Katulampa dapat mengamati langsung dari CCTV.

Selain itu, keberadaan alat ukur otomatis juga sangat penting. Karena dapat memudahkan petugas mengawasi ketinggian air melalui monitor elektronik tanpa harus melihat keluar. Tapi sejak rusak petugas terpaksa mengawasi secara manual melihat secara visual, disaat hujan mengguyur dengan lebat.

"Kondisi ini kadang menghalangi kita, satu sisi kita harus berhati-hati dalam bekerja, mengawasi dan menjaga air tetap stabil," katanya.

Saat ini kondisi Bendung Katulampa normal, ketinggian air siang ini setinggi 20 centimeter. Sejak dikuras dua minggu yang lalu, pemandangan di sekitar Bendung Katulampa lebih bersih dan indah, air yang keluar dari pintu air pun lancar tidak ada sampah yang bergantung hanyut dibawa air.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau