Cinta Cuma Reaksi Kimia Belaka?

Kompas.com - 06/10/2010, 15:26 WIB

ATLANTA, KOMPAS.com Manusia berpikir cinta adalah suatu rasa yang sulit dipahami. Namun, hal ini bertolak belakang dengan pendapat seorang ilmuwan yang mengatakan bahwa cinta hanyalah sebuah rangkaian peristiwa kimia.

Menurut Larry Young, profesor ilmu saraf di Emory University di Atlanta, Georgia, cinta dapat dijelaskan dengan serangkaian peristiwa neurokimia di bagian otak tertentu. Jika pendapat ini benar, maka orang tidak perlu bergantung pada cokelat atau tiram untuk membangkitkan perasaan cinta.

Bahkan, orang bisa saja menciptakan afrodisiak yang membuat seseorang jatuh cinta pada pandangan pertama atau obat penawar untuk cinta yang tak terbalas karena mencintai orang yang tidak seharusnya.

Para ilmuwan sebelumnya telah mengamati bahwa zat kimia yang disebut oksitosin terlibat dalam pengembangan ikatan antara ibu dan anak pada hewan. Prof Young berpendapat, hal yang terjadi pada hewan juga terjadi pada manusia.

"Hanya saja ketika kita mengalami emosi-emosi tersebut, kita tidak dapat membayangkan bahwa itu hanyalah serangkaian peristiwa kimiawi," katanya.

Para peneliti telah menemukan bahwa oksitosin terlibat dalam ikatan laki-laki dan perempuan, membentuk suatu ikatan yang kuat satu sama lain untuk waktu yang sangat lama. Dan ada studi pada manusia yang menunjukkan meningkatnya oksitosin dapat menciptakan kemampuan untuk membaca emosi orang lain.

Prof Young percaya, masih ada bahan kimia lain yang ikut terlibat. "Saya yakin ini baru permulaan. Ada ratusan sinyal molekul di otak dan semuanya bertindak di daerah otak yang berbeda, suatu hari kita akan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana semua bahan kimia ini berinteraksi dan bertindak di daerah otak tertentu yang memiliki fungsi spesifik sehingga menimbulkan emosi-emosi yang kompleks."

Ilmuwan lain, Profesor Nick Bostrom selaku Direktur Oxford University Future of Humanity Institute mengatakan, kita tidak harus berpikir perspektif untuk memahami secara utuh tentang apa itu cinta.

Ada ilmu evolusioner, sosiologis, fenomenologis (pendekatan filosofis dan metode penelitian kualitatif) dan perspektif humanistik yang menawarkan wawasan penting.

Jika cinta benar-benar hanyalah sebuah reaksi kimia yang kompleks, maka hal itu memiliki kemungkinan untuk memanipulasi mekanisme neurologis yang memainkan peran dalam romantisme.

"Saya rasa pada masa mendatang kita dapat mengembangkan obat yang siap masuk ke otak dan dapat menargetkan wilayah otak tertentu yang bisa melakukan hal ini," ujar Prof Bostrom.

Jika digunakan dengan bijaksana, maka farmakologi seperti itu dapat digunakan untuk terapi perkawinan atau menambah pengalaman manusia dan mengurangi penderitaan yang tidak perlu.

"Namun, manipulasi semacam ini masih bertabrakan dengan etika dan budaya, jadi harus hati-hati dalam mengeksplorasinya," imbuhnya. (tam)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau