Oleh Hermawan Kartajaya Bersama Waizly Darwin
Sudah hampir tiga tahun sejak tim kami di MarkPlus, Inc mendalami fenomena baru di dalam dunia New Wave Marketing. Dan dalam kurun waktu tiga tahun itu pula, teknologi terus bermunculan.
Ketika menulis artikel berseri “New Wave Marketing: The World is Still Round, But the Market is Already Flat” di tahun 2008, Facebook tengah memanas dan di Indonesia Blackberry mulai banjir.
Ketika masuk ke tahun 2009, saat memublikasikan “Connect! Surfing New Wave Marketing,” Twitter tengah lagi merangkak ke permukaan. Di pasar telekomunikasi, cool gadgets seperti Blackberry dan iPhone ketika itu menjadi barang yang hot.
Kini di tahun 2010, teknologi dan media baru terus dipasarkan dan digunakan oleh konsumen untuk senantiasa tetap Connect! secara horisontal. Lihat saja bagaimana Twitter merajalela di Indonesia. Indonesia kini bukan saja “Republik Facebook,” namun juga “Republik Berkicau.”
Berbagai teknologi baru juga terus bermunculan di pasar mulai dari Blackberry tipe terbaru, iPhone generasi terbaru, Smartphone dengan Android, hingga iPad.
Gaya hidup sosial masyarakat di era New Wave semakin mengalami transformasi yang menjadi-jadi. Tetap senantiasa Connect! menjadi satu hasrat nomor satu, maka ketika dunia ter-Disconnect! mereka jadi kelabakan.
Maka tak heran kalau ada seorang tahanan meskipun dipenjara, masih rajin update status Facebook. Dan tak heran pula, banyak yang teriak ketika situs-situs kesayangannya diblokir pemerintah.
Semakin Kacau Karena Banyak Yang Berkicau
Siapa yang tak kenal Sarah Sechan? Presenter seksi yang terkenal tampil polos apa adanya ini belum lama ini men-tweet lewat akun Twitter-nya @Sarseh “Life was so much better without twitter. Now I see so many impolite & disrespectful people. I think I should just terminate this account.
Sarah mungkin tidak sendirian ketika merasakan bahwa dunia dulu terasa lebih enak tanpa Twitter. Banyak orang lain yang merasakan hal itu juga. Konteks yang dirasakan olehnya mungkin agak sedikit menyentuh pengalaman Sarah pribadi. Namun betul adanya, pengkicau bertebaran dimana-mana. Di Twitter orang yang tak kita kenal dapat menyamber ke kita di alam yang sebetulnya publicly private. Kalau nyamber secara sopan, mungkin tidak ada masalah. Namun bagaimana kalau nyamber secara kasar?
Belum lagi, Twitter mengekskalasikan banyak hal. Hal-hal yang biasa bisa jadi luar biasa. Misalnya, gara-gara Twitter, jalanan terasa lebih macet, di-mana-mana banjir, dunia menjadi kacau. Padahal semestinya itu menjadi hal yang biasa.
Era New Wave yang serba ter-Connect! ini menyimpan segudang tantangan dan juga peluang bagi pemasar. Tantangannya adalah bagaimana para pemasar belajar untuk tampil di dunia yang horisontal. Ketika masuk ke Facebook dan Twitter, artinya pemasar ditantang untuk tampil secara horisontal dan bersedia menerima berbagai macam cobaan yang tersirat di dalamnya, termasuk bagaimana me-handle komplain dan berbagai cercaan.
Peluangnya juga banyak. Di dunia yang ter-Connect! ini, membangun sebuah brand menjadi relatif lebih mudah. Satu yang semakin sulit adalah membangun karakter yang konsisten. Karena di tengah dunia menjadi terbuka, di setiap kesempatan akan banyak yang menguji ketangguhan karakter dari brand Anda.
Kita sudah banyak melihat kasus sukses berlabel “Social Media Sensation” mulai dari Gamaliel-Audrey sampai Shinta-Jojo. Dalam hitungan relatif singkat, lewat konten yang mereka tawarkan masing-masing, mereka bisa muncul dari YouTube hingga ke permukaan TV nasional. Suka atau tidak, dua-duanya layak disebut sebagai fenomena anak muda di era New Wave.
Connect! dengan Youth, Women & Netizen
Era New Wave adalah era yang horizontal dan penuh dengan kesetaraan. Era ini pula datang di saat adanya berbagai momentum baru yang tengah berkembang di kehidupan masyarakat. Bukan hanya karena perkembangan teknologi Internet dengan Web 2.0-nya, namun juga dari banyak sisi lain, terjadi pula banyak pergeseran.
Generasi baby boomer kini memberikan peranannya ke generasi yang lebih muda. Kekuatan kaum perempuan sudah jauh lebih diperhatikan dibanding dekade-dekade sebelumnya. Kedudukan para masyarakat di internet semakin diperhitungkan ketimbang masyarakat di dunia nyata.
Tim kami di MarkPlus, Inc sepanjang tahun ini melakukan riset besar-besaran untuk menggali fenomena apa yang sedang terjadi di fenomena konsumen di era New Wave sekarang. Menurut kami sendiri, mereka yang disebut sebagai konsumen yang siap untuk di-Connect! sejatinya ada tiga, yaitu mereka yang muda (Youth), kaum perempuan (Women), dan penduduk di dunia internet (Netizen). Secara organik, ketiga sub-culture inilah yang sepatutnya dipupuk oleh pemasar yang ingin mengarungi dunia New Wave.
Di dalam rangkaian artikel berseri di Kompas.com kali ini, kami akan mengupas beberapa hal yang sempat tertinggal di dalam buku Connect! Surfing New Wave Marketing yang dipublikasikan oleh Kompas Gramedia tahun lalu.
Setelah sebelumnya membahas latar belakang datangnya gelombang baru pemasaran “New Wave Marketing” dan juga peralihan praktek pemasaran dari yang bersifat vertikal menjadi horisontal, kini saatnya kami membeberkan berbagai temuan kami di lapangan terkait dengan apa yang dilakukan oleh seorang New Wave Marketer untuk menggapai konsumen yang siap di-Connect! yaitu Youth, Women, dan Netizen.
Artikel berseri ini nantinya akan ditulis berdasarkan analisa terhadap hasil riset kuantitatif dan kualitatif yang dilakukan oleh MarkPlus Insight pada beberapa kota besar di Indonesia.
Tulisan 1 dari 100 dalam rangka MarkPlus Conference 2011 “Grow With the Next Marketing” Jakarta, 16 Desember 2010, yang juga didukung oleh Kompas.com.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang