Pertemuan Ekonomi OKI Dibuka Abdulah Gul

Kompas.com - 07/10/2010, 16:14 WIB

Laporan wartawan KOMPAS Orin Basuki dari Istanbul, Turki

ISTANBUL, KOMPAS.com - Presiden Turki Abdullah Gul membuka Pertemuan Tingkat Menteri dalam Standing Committee for Economic and Commercial Cooperation (COMCEC) ke-26 Organisasi Konferensi Islam atau OKI pada 7 Oktober 2010 di Istanbul, Turki. Gul meminta kerjasama ekonomi antara 57 negara anggota OKI semakin ditingkatkan karena perkembangan ekonomi semakin sulit, terutama setelah krisis keuangan global melanda seluruh dunia pada 2008-2009.

Abdullah Gul menyampaikan hal tersebut pada saat menjadi pembicara kunci dalam pembukaan Pertemuan Tingkat Menteri COMCEC ke-26 di Istanbul, Kamis (7/10/2010).

Hadir dalam pertemuan tingkat menteri COMCEC adalah Menteri Koordinator Perekonomiaan Hatta Rajasa dan Sekretaris Negara Dipo Alam. Keduanya akan mengupayakan agar posisi Indonesia dalam hubungan dengan negara-negara anggota OKI semakin maksimal, karena jumlah penduduk muslim di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia saat ini.

Menurut Gul, hubungan ekonomi akan semakin kuat karena solidaritas antar negara-negara anggota OKI terlihat semakin erat dibandingkan sebelumnya. Krisis pada tahun 2008 yang disebabkan masalah pada pasar internasional telah menjebak sebagian besar anggota OKI dalam masalah serius, karena sebagian besar anggotanya merupakan negara berkembang.

"Krisis lalu telah melanda semua negara, tidak pandang negara berkembang atau negara maju. Begitu juga dengan negara-negara anggota OKI, yang juga terdiri atas negara berkembang dan maju," tuturnya.

Meski demikian, dampak krisis terhadap negara anggota OKI jauh lebih berat dibandingkan dengan dampak terhadap negara maju di luar OKI. Atas dasar itu, negara-negara muslim diajak untuk mencari solusi bersama dari masalah itu.

"Sejak tahun 2009, pemulihan ekonomi global memang sudah terlihat. Namun, negara muslim masih perlu mengembangkan potensi pembiayaan bersama, memanfaatkan sumber daya alam secara maksimal. Ini penting karena jumlah penduduk di negara OKI setara 22 persen populasi dunia, 22 negara (dari 57 anggota OKI) tergolong negara maju. Ini menempatkan posisi OKI semakin penting," kata Gul. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau