TOKYO, KOMPAS.com — Penguatan nilai tukar yen terhadap dollar Amerika Serikat (AS) berdampak terhadap industri otomotif di Jepang. Salah satunya adalah Suzuki Motor Corporation (SMC). Akibatnya, Suzuki, seperti dilaporkan Asahi Shimbun, Rabu kemarin, akan memindahkan basis produksi mesinnya ke luar Jepang.
Saat ini, produksi mesin Suzuki di Jepang mencapai 800.000 unit yang digunakan untuk kendaraan yang dirakit di negara tersebut, baik untuk pasar domestik maupun ekspor.
Berita itu dibantah oleh Suzuki. “Kami hanya mengatakan ingin mengganti pengiriman parts ke Hongaria dan Indonesia, membuat mesin dengan vendor lokal. Pertimbangannya, nilai tukar yen yang terus menguat,” kata juru bicara perusahaan tersebut tanpa disebutkan namanya.
“Produk mesin di Jepang tidak akan dikurangi dari 800.000, kecuali bila permintaan domestik turun,” tambah sumber tersebut. Dilaporkan pula, Suzuki akan melakukan perombakan sistem produksi untuk menekan biaya produksi.
Isu rencana Suzuki memindahkan basis produksinya bertambah karena para analis keuangan di Tokyo khawatir pasar mobil India yang melaju dengan “kecepatan tinggi” akan oveheating. Maklum, di negara tersebut, Suzuki dengan mitra lokalnya, Maruti, menguasai pasar India.
Isu lainnya, Suzuki akan menghadapi tantangan di Jepang dengan rencana Toyota masuk ke pasar mobil mini. Nah, kolaborasi Toyota dengan pemasok dan aliansinya, Daihatsu, diperkirakan akan menyebabkan tantangan yang dihadapi Suzuki di Jepang makin berat!
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang