Bencana wasior

Hillary Clinton Prihatin, Bagaimana SBY?

Kompas.com - 08/10/2010, 12:17 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tepat dua hari banjir bandang memorak-porandakan Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat, dari nun jauh di sana, di New York, Amerika Serikat, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menyisihkan waktu untuk menyatakan keprihatinannya atas bencana yang menewaskan hampir 100 orang tersebut. Tak memiliki keterkaitan langsung tak membuat salah satu wanita paling berpengaruh di dunia versi ForbesWoman kehilangan rasa empatinya bagi para korban.

"Atas nama rakyat Amerika Serikat, kami menyampaikan simpati mendalam terhadap kerusakan dan jatuhnya korban jiwa akibat banjir dan longsor di Indonesia bagian timur, terutama di Provinsi Papua Barat," kata Hillary dalam pernyataan yang dikeluarkan Departemen Luar Negeri di Washington, Rabu (6/10/2010). "Kami menyatakan dukacita yang mendalam bagi mereka yang terkena dampak tragedi ini maupun bagi rakyat Indonesia secara keseluruhan," kata Hillary lagi.

Di Indonesia, hingga memasuki hari keempat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono belum mengucapkan sepatah kata pun soal banjir bandang tersebut. Ketika membuka rapat kabinet di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (7/10/2010), Presiden malah berbicara soal ketersinggungan dirinya atas pengadilan HAM yang digelar di Den Haag, yang salah satu tuntutannya adalah penangkapan dirinya. Presiden mengatakan, dirinya tidak nyaman atas digelarnya pengadilan tersebut yang bertepatan dengan kunjungannya ke Belanda.

Presiden juga mengklarifikasi pemberitaan sebulan lalu yang menuduh dirinya menghambur-hamburkan uang negara untuk membeli baju dan mengganti furnitur Rumah Tangga Kepresidenan. Presiden menegaskan, tak serupiah pun uang negara yang digunakannya untuk membeli pakaian.

Presiden kemudian meminta Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi dan Sekretaris Kabinet Dipo Alam untuk menggunakan hak jawab. Media yang memberitakan pemberitaan itu diminta Presiden untuk memuat hak jawab itu. Jika tidak, tegas SBY, berarti media yang bersangkutan telah menyebarkan berita yang tidak benar.

Satu-satunya pernyataan Presiden disampaikan Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha melalui secarik kertas siaran pers yang diedarkan di ruang wartawan Istana Kepresidenan, Rabu lalu.

Melalui secarik kertas itu, tertulis bahwa Presiden turut berdukacita atas bencana yang merenggut nyawa warga Wasior. Tertulis pula, Presiden selaku Kepala Negara menyumbang bantuan senilai Rp 2 miliar.

Menurut Julian, ketika dihubungi Kompas.com, Jumat (8/10/2010), sampai saat ini Presiden belum memiliki rencana untuk mengunjungi korban gempa. Pasalnya, infrastruktur di Wasior belum memungkinkan Presiden berkunjung. Pada hari ini, Presiden dijadwalkan menonton pertandingan sepak bola di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Di stadion itu, digelar pertandingan persahabatan antara timnas Indonesia dan Uruguay.

Ketika gempa Padang terjadi pada 30 September 2009 silam, Presiden langsung meninjau lokasi satu hari setelahnya. Bersama rombongan, SBY tiba di Padang pada 1 Oktober 2010. Saat itu, infrastruktur Padang rusak parah.

Begitu pula ketika gempa mengguncang Tasikmalaya pada 2 September 2010. Presiden langsung meninjau lokasi keesokan harinya. Pada hari itu, korban tewas gempa Tasikmalaya tercatat sekitar 50 orang. Sementara itu, belasan lainnya dinyatakan menderita luka berat dan ratusan lainnya mengungsi. Infrastruktur di Tasikmalaya dan di sekitarnya juga diberitakan rusak berat.

Hingga saat ini, jumlah korban tewas di Wasior mencapai 99 orang. Sementara 117 orang dinyatakan hilang dan 88 orang menderita luka berat. Angka ini dikhawatirkan bertambah. Ribuan warga lainnya dilaporkan mengungsi ke daerah terdekat, termasuk Nabire, Manokwari, dan pulau-pulau di sekitar lokasi.

Kendati belum mengunjungi Wasior, Julian mengatakan, Presiden tetap memantau perkembangan bencana alam tersebut. Begitu menerima kabar soal banjir bandang, Presiden langsung memerintahkan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan.

Presiden juga telah berkomunikasi dengan Pemerintah Provinsi Papua Barat serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Presiden juga telah memerintahkan Staf Khusus Presiden Bidang Otonomi Daerah Velix Vernando Wanggai untuk terjun ke lokasi. "Sistem telah bekerja," kata Julian.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau