Syaharani: Jaga Beta Pung Ambon E

Kompas.com - 09/10/2010, 04:04 WIB

AMBON, KOMPAS.com - Syaharani and The Queenfireworks (SQF) tampil memukau di depan Duta Besar Jepang dan Selandia Baru untuk Indonesia dalam konser musik Ambon Jazz Plus Festival (AJPF) 2010 di panggung cengkeh, Taman Budaya, Karang Panjang, Jumat (8/10/2010) malam.   

Syaharani juga sempat berinteraksi dengan kedua Duta Besar yang terlihat ikut bergoyang di bawah panggung mengikuti irama dari tujuh tembang yang dibawakannya.

Dalam pertunjukan itu juga dihadiri Direktur Jenderal (Dirjen) Kerja sama Asean Djauhari Oratmangun, Duta Besar Indonesia untuk Serbia Samuel Samson, Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI George Toisutta dan Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu.

SQF yang mengusung genre crossover, yakni penyatuan warna-warni irama pop, soul, jazzy groove, rockn’roll dan blues mengawali penampilannya dengan lagu pop daerah Maluku "Beta Berlayar Jauh" yang digubah menjadi lebih indie.

Penonton yang semula terpencar-pencar di luar area pertunjukan langsung mendekat ke pangung mendengar alunan musik dan suara merdu sang penyanyi Syaharani.

"Lagu Beta Berlayar Jauh belum lama kami pelajari. Kebetulan salah satu penyanyi SQF, Jeffri Wattimena yang berdarah Maluku dan baru pertama sekali pulang kampung, mengoleksi banyak lagu Ambon, sehingga saya pun akrab dengan lagu-lagu Ambon," kata Syaharani.

Tampil atraktif, Syaharani mengajak penonton dan wartawan yang hadir berdendang dan bergoyang saat melantunkan tembang Anytime. Tidak tanggung-tanggung vokalis SQF itu langsung turun menjumpai penggemarnya yang terbuai dengan penampilannya.

"Semua orang Ambon jago nyanyi. Jadi saya yakin kalian semua bisa ikut bernyanyi bersama-sama," teriaknya dan mengarahkan mike pada beberapa penonton untuk menyanyikan sepenggal bait lagu "Sayang Sayang Sayang".

Penyanyi yang malam itu tampil dengan gaun pendek berwarna emas menyampaikan rasa terima kasih kepada Gubernur Maluku yang telah menyempatkan waktu menyaksikan penampilan mereka dan panitia AJPF yang mengundang datang ke Kota Ambon.

"Ambon benar-benar kota yang cantik dan indah. Kami menikmati berada di sini," ujarnya.

Syaharani sempat berpesan kepada masyarakat Ambon, terutama generasi muda untuk lebih peduli dengan lingkungannya, terutama masalah pengelolaan sampah dan penghijauan, agar keindahannya tetap terjaga.

Band yang baru terbentuk pada 2004 diawaki Syaharani (vokalis), Ahmad Fareed atau lebih dikenal Didit (keyboard), Donni Soehendra (gitar) membawakan lagu Kemareen yang terdapat dalam album pertama SQF "Buat Kamu" yang rilis 2006.

Selain itum mereka juga melantunkan beberapa tembang dalam album terbarunya "Anytime" yang diluncurkan pada Mei 2010, yakni "Kiranya Mungkin, Kekasih Palsu, Anytime dan Sayang Sayang Sayang".

"Lagu Anytime sangat cocok untuk laki-laki yang ingin mengutarakan cintanya karena gombal sekali," katanya yang disambut tawa para penonton.

Syaharani mengakhiri penampilan grup bandnya dengan lagu daerah Maluku bertajuk "Sio Mama" yang kalimat terakhirnya jaga beta pung mama e diganti menjadi jaga beta pung Ambon e sebagai bentuk kekaguman dan kecintaannya terhadap kota tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau