Penculikan

Waduh, Penculik Anak Rambah Depok

Kompas.com - 09/10/2010, 14:17 WIB

DEPOK, KOMPAS.com — Polrestra Depok akan mengoptimalkan petugas lapangan dan Badan Pembinaan Keamanan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas) menyusul ditemukannya siswa kelas VI SD Mardi Yuana, Depok, Gregorius Darmawan (11), yang dibuang penculik di Stasiun Bojong Gede, Kamis (7/10/2010) pukul 21.30 WIB.

"Kami akan optimalkan petugas lapangan dan Babinkamtibmas. Rencananya, setiap kelurahan ada satu anggota Babinkamtibmas dan mereka tidak boleh bertugas ganda atau menjadi petugas keamanan di tempat lain. Ini juga perintah Kapolda Metro Jaya," tutur Kapolresta Depok Kombes Fery Abraham, Jumat (8/10/2010).

Menurut Fery, petugas polisi di lapangan harus tanggap terhadap kondisi lingkungan yang berada di dekat mereka. Mereka pun harus memiliki jiwa penolong terhadap setiap masyarakat Depok. Demikian juga petugas Babinkamtibmas.

Lebih lanjut Fery menjelaskan, peran serta orangtua juga sangat diperlukan untuk mengantisipasi penculikkan. Para orangtua lebih waspada dan memerhatikan anaknya. Contohnya, mengantar dan menjemput anak mereka, menaikkan anak mereka ke angkutan umum yang sudah dikenal atau menggunakan jemputan.

"Orangtua juga harus lebih waspada dan perhatian. Modus penculikan anak itu beraneka ragam," ujarnya.

Di depan rumah

Kepala Bagian Operasional Polresta Depok Kompol Suratno menjelaskan, penculikan Gregorius Darmawan terjadi di depan rumah di Jalan Pemuda 67, Pancoran Mas, Depok, Kamis (7/10/2010) pukul 12.00.

Saat itu, Ego—sapaan akrab Gregorius—pulang sekolah bersama adiknya, Keisya (10), yang duduk di kelas V SD Mardi Yuana dengan menaiki becak. Sesampai di depan rumah, Keisya masuk ke rumah duluan, sedangkan Ego yang akan masuk didatangi seorang laki-laki yang menaiki motor bebek.

"Setelah naik motor Ego dibawa putar-putar keliling Depok oleh orang itu. Malamnya diturunkan di Bojong Gede, Bogor," ujarnya.

Ego menjelaskan, dia mau mengikuti pria tinggi besar, berambut ikal, berkulit warna hitam serta memiliki brewok itu karena pria itu mengajaknya kembali ke sekolah untuk mengukur baju.

"Orang itu datang dan bilang ayo ngukur baju seragam di sekolah. Terus dia bilang, temanku, Yohanes, juga sudah diukur seragam dan sekarang di sekolah," paparnya.

Karena tidak curiga, lanjutnya, dia pun yang saat itu mengenakan baju olahraga ikut bersama orang itu naik motor. Sesampai di depan sekolah, Ego dan pria itu tidak masuk ke sekolah. Alasannya, karena pria itu lupa membawa kain. Pria itu mengatakan akan mengambil kain di rumahnya. Namun, Ego malah dibawa keliling Depok. Ego dibawa menyusuri Jalan Margonda Raya, ke Margo City, Cimanggis.

"Karena kehujanan saya disuruh ganti baju di SPBU Cimanggis. Saya pakai seragam kotak biru dan celana putih. Terus dibawa ke Bojong Gede. Di Stasiun Bojong, orang itu bilang mau pinjam uang ke temen kemudian tas dan sepatu saya diambil. Saya diperlakukan baik, tidak ditelanjangi," ujarnya.

Dikatakan Ego, saat di Stasiun Bojong dia meminta tolong kepada perempuan bernama Trisna untuk memperbolehkan menghubungi orangtuanya dengan telepon seluler. (Dody Hasanuddin)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau