JAKARTA, KOMPAS.com - Dua buku genre budaya, yaitu Rantak (penerbit JC Institute) dan Saatnya Baduy Bicara (penerbit Bumi Aksara dan Untirta) diluncurkan di tempat terpisah, Sabtu (9/10) di Jakarta. Sejumlah pakar membicarakan masing-masing buku dengan menarik dan mencerahkan.
Budayawan, peneliti dan pengajar Institut Kesenian Jakarta Julianti Parani yang membahas buku Rantak mengatakan, keunggulan tokoh seperti (almarhumah) Gusmiati Suid yang menciptakan banyak tari dan salah satunya tari Rantak, terletak pada perannya dalam seni kontemporer.
Suatu tren kesenian yang banyak berkembang di Indoneia pada tahun 70-an dan selanjutnya, meski sudah memiliki akar-akarnya pada masa pergerakan nasional di Indonesia sebagai pengaruh pertumbuhan global dari seni kontemporer dunia.
Gusmiati Suid adalah anak zaman dari perspektif ini. Bahwa akar dari kehidupan lingkungan budaya tradisi menjadi motivasi dalam menemukan alternatif berkesenian yang lebih universal dalam pergaulan dunia masa kini. "Gusmiati Suid hidup dalam situasi yang memungkinkan dia bisa berkembang sebagai seniman kontemporer," ungkapnya.
Menurut Julianti, karya-karya Gusmiati tidak seperti karya koreografer kebanyakan yang lebih suka pada seni hiburan yang bersifat populer. Gusmiati mempromosikan kedalaman filosofis dalam berekspresi, terutama melalui motif gerak pencak silat yang dominan dalam tradisi Minang. Sebagaimana lazimnya seniman kontemporer, karya seninya terungkap sebagai protes terhadap konsep kemapanan yang terperangkap dalam kemandegan warisan tradisional.
"Meski sudah banyak menerima penghargaan dari pemerintah dan institusi kesenian di dalam maupun luar negeri, pada masa hidupnya ia sering dianggap sebagai seniman aneh oleh masyarakat Minangkabau sendiri," katanya.
Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengatakan, agak disesalkan ketika masyarakat Minang terlambat bahu-membahu untuk mendukung Gusmiati memelihara dan mengembangkan budaya Minang. Baginya seni adalah hidup, bukan sekadar mata mencaharian, bukan kerja. "Terbitnya buku ini tidak sekadar dokumentasi, tetapi sekaligus menjadi pemicu lahirnya Gusmiati Suid baru yang penuh dedikasi dan mampu mengharumkan Indonesia di pentas dunia dengan karya besarnya," kata Fasli Jalal.
Penyair Leon Agusta mengatakan, ketika Gusmiati mau berangkat ke New York untuk mengikuti pameran Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS) tahun 1991, karya Gusmiati dipandang sebelah mata. Tak ada tokoh Minang yang berkenan membantu persiapan keberangkatan mereka ke Amerika.
Beberapa bulan setelah pulang dari Amerika, Gusmiati Suid dengan Gumarang Sakti Minangkabau Dance Company, bersama Group Nurdin Daud dari Aceh, dinyatakan oleh Award Committee New York Dance dan Performance award yang terdiri dari 21 juri sebagai penerima penghargaan yang dikenal dengan nama The Bessies Award. "Mengungguli grup-grup lain yang melakukan pementasan di Dance Theater Workshop selama satu tahun," katanya.
Meluruskan Baduy
Buku Saatnya Baduy Bicara, selain menghadirkan penulisnya Asep Kurnia dan Ah mad Sihabuddin, juga sumber utama Tokoh Adat Muda Cibeo, Ayah Mursid, dan sosiolog dari Universitas Indonesia Imam B Prasodjo.
Hadirnya buku ini, menurut Asep Kurnia dan Ahmad Sihabuddin, untuk meluruskan beragam pernyataan dan pandangan yang keliru dan berkembang di masyarakat luar terhadap kesukuan Baduy. "Buku ini dapat dijadikan sebagai acuan andal dan akurat tentang eksistensi mereka (baduy) yang penuh dengan misteri dan keunikan," kata Asep.
Bukti keunikan itu, antara lain, ditunjukkan Ayah Mursid, ketika untuk bisa tampil seminar di Jakarta, ia bersama sejumlah tokoh Baduy lainnya, berjalan kaki selama satu minggu dari kampung halamannya. "Orang Baduy pantang naik kendaraan yang mencemari alam," katanya.
Imam Prasodjo mengatakan, banyak kearifan lokal masyarakat adat baduy yang perlu mendapat perhatian pemerintah sekarang. Imam memaparkan sejumlah program Universitas Indonesia untuk masyarakat Baduy, sembari mengajak Pemerintah setempat untuk membantu kekurangan dana guna membangun semacam puskesmas khusus dan menyediakan lahan untuk kehidupan masyarakat Baduy, yang terus bertambah, yang semula, 1995 sekitar 4.000 jiwa, kini menjadi 7.000 jiwa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang