Parade Besar Sambut Jong Un

Kompas.com - 11/10/2010, 02:53 WIB

pyongyang, minggu - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Il dan anaknya, Kim Jong Un, menyaksikan parade militer besar-besaran di Pyongyang, Minggu (10/10). Selain memperingati hari ulang tahun ke-65 partai komunis yang berkuasa, parade juga mengukuhkan posisi Jong Un sebagai pewaris kekuasaan Jong Il.

Kim Jong Un mengenakan setelan jas sipil berwarna biru tua dan duduk mendampingi ayahnya di panggung observatorium Kim Il Sung Plaza. Di depan mereka tampak tank-tank dengan dilengkapi roket pelontar granat dan rudal jarak jauh.

Parade yang diikuti sekitar 15.000 tentara ini merupakan debut publik penting bagi Jong Un setelah hampir dua minggu diangkat menjadi jenderal bintang empat, Wakil Ketua Komisi Pusat Militer Partai Pekerja, dan anggota komisi. Selain pejabat, hadir pula ribuan warga sipil. Parade ini adalah bagian terpenting bagi deklarasi tampilnya generasi ketiga dinasti di tampuk kekuasaan negara komunis itu.

Menteri Pertahanan Korea Selatan (Korsel) Kim Tae Young mengatakan, Korut menggunakan perayaan ulang tahun itu untuk menyusun suatu rencana suksesi dari Jong Il kepada Jong Un. Kantor berita Korsel Yonhap mengatakan, kembang api telah diimpor dari China untuk dinyalakan pada Minggu petang di sepanjang tepi Sungai Taedong yang membelah Pyongyang.

Parade militer ini merupakan yang terbesar yang pernah digelar sepanjang sejarah Korut dan sekaligus menunjukkan kuatnya persatuan militer. Saat parade itu wajah anak bungsu Kim Jong Il dapat dilihat langsung dan disiarkan melalui televisi ke negara tetangga.

Ayah dan anak itu melambaikan tangan ke arah ratusan ribu warga yang bersorak-sorai. ”Kim Jong Il, lindungi dia sampai mati! Kim Jong Il, mari kita bersatu untuk mendukung dia!” seru para hadirin.

Sejumlah media asing diundang untuk meliput parade. Jong Il dan Jong Un menghampiri wartawan asing, membiarkan mereka mengambil momen itu.

Dijuluki pembunuh

Bersamaan dengan parade militer itu ratusan aktivis dari Korsel menggelar unjuk rasa di zona demiliterisasi yang membagi dua negara Korea. ”Warga Korut, bangkit dan tolaklah suksesi yang melanjutkan kekuasaan dinasti Kim, pembunuh rakyat,” seru sekalian aktivis.

Bersamaan dengan itu pula Hwang Jang-yop (87), mantan pejabat tinggi di Partai Pekerja Korut, yang membelot ke Korsel tahun 1997, ditemukan tewas di rumahnya. Mayat Hwang ditemukan di kamar mandi rumahnya pada Minggu (10/10). Dia diduga terkena serangan jantung. ”Namun, polisi sedang menyelidiki kemungkinan lain,” demikian siaran YTN mengutip pejabat.

Hwang membelot ke Korsel melalui Beijing, China. Ia adalah mantan guru pemimpin Korut sekarang, Kim Jong Il. Sejak tahun 1997, dia tinggal di Korsel di bawah penjagaan polisi di satu alamat yang tidak pernah disebutkan dan sejak itu pula ia menjadi pengkritik paling pedas terhadap Korut. Hwang beberapa kali menerima ancaman pembunuhan. (AP/AFP/REUTERS/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau