Lingkungan

Warga Diminta Tetap Waspada Banjir

Kompas.com - 11/10/2010, 03:01 WIB

jakarta, Kompas - Warga di Jakarta Utara diminta untuk waspada terhadap banjir yang mungkin terjadi dalam hari-hari mendatang. Pasalnya, selain hujan deras yang hampir setiap hari turun, kawasan Jakarta Utara juga kerap mengalami rob atau gelombang tinggi.

Sementara di Kota Bekasi, walaupun kini relatif aman dari banjir, warga Bekasi diimbau tetap waspada terhadap banjir dan genangan air karena curah hujan yang tinggi pada masa pancaroba ini.

Di Jakarta Utara terdapat 27 lokasi rawan banjir dan rob. Adapun penyebab banjir di Jakarta Utara antara lain tingginya curah hujan, banjir kiriman, penyempitan badan sungai (drainase), banyaknya hunian di bantaran kali, dan belum idealnya sistem polder.

Ke-27 lokasi rawan banjir itu antara lain Kamal Muara, Muara Angke, Jalan RE Martadinata, Marunda Pulo, Jalan Raya Cilincing, Warakas, Sungai Bambu, sekitar Jampea, Kelapa Gading, KBN Cakung, dan sekitar Jalan Yos Sudarso.

Menurut Wali Kota Jakarta Utara Bambang Sugiyono, banjir di Kecamatan Penjaringan terutama di wilayah-wilayah yang langsung menghadap ke laut disebabkan belum adanya tanggul memadai di daerah sana.

”Saat ini tanggul yang ada belum permanen. Itu pun banyak yang bolong sehingga air tetap masuk. Apalagi saat ini kerap terjadi gelombang yang cukup tinggi hingga tiga meter,” kata Bambang, pekan lalu.

Sementara untuk kawasan Cilincing yang juga berada di tepi laut, relatif lebih aman karena telah dibangun tanggul permanen sepanjang 160 meter dan 600 meter.

”Air masih masuk, tetapi tidak lagi tinggi dan deras arusnya,” kata Bambang.

Untuk pembangunan tanggul di kawasan Penjaringan, Bambang mengatakan, akan dilaksanakan dengan anggaran tahun 2011. Bambang menambahkan, pihaknya menyiapkan beberapa upaya pengendalian bencana dan banjir.

”Upayanya antara lain peringatan dini terhadap warga, persiapan sarana dan prasarana, kesiapan 3.193 personel, menyediakan sekitar 52 pompa di 18 titik di wilayah Jakarta Utara.”

Untuk mengurangi ancaman banjir ini, Bambang juga mengimbau warga agar menjaga lingkungan dengan cara tidak membuang sampah sembarangan dan menanam pohon.

Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Tata Air Jakarta Utara Irvan Amtha mengatakan, ada 1.800 meter kubik sampah yang terdapat di kali-kali Jakarta Utara. Dalam setahun ada 657.000 meter kubik sampah.

”Dari jumlah itu, hanya 57 hingga 60 persen yang dapat terangkut,” kata Irvan.

Biopori

Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad juga mengingatkan warga Kota Bekasi untuk membuat lubang resapan atau biopori di setiap rumah dan lingkungan di sekitarnya.

”Mari kita budayakan lingkungan bersih. Saluran juga dijaga agar tidak ada sampah yang bisa menyumbat aliran air,” kata Mochtar.

Terkait upaya pencegahan banjir, Mochtar menyatakan, pemerintah sudah memperbaiki tanggul dan turap di Kali Bekasi. Upaya menormalkan saluran juga selesai.

Oleh karena itu, Kota Bekasi relatif aman dari banjir kiriman yang terjadi karena air sungai meluap. ”Namun, munculnya genangan karena curah hujan yang tinggi kini harus diantisipasi,” ujar Mochtar.

Mengenai penanganan sampah, Kepala Bidang Data dan Pengembangan di Dinas Kebersihan Kota Bekasi Abdul Malik mengatakan, kapasitas seluruh armada pengangkut sampah milik Pemerintah Kota Bekasi belum cukup mengangkut seluruh sampah yang ada.

Untuk itu, Pemkot Bekasi berupaya mengolah sampah di sumbernya, antara lain dengan menyiapkan mesin-mesin pembuat kompos.

”Misalnya untuk mengolah sampah pasar, kami membangun unit mesin pencacah sampah organik di pasar tersebut,” kata Abdul dalam dialog dengan perwakilan warga, tokoh masyarakat, dan tokoh agama sekecamatan Bekasi Timur, di Kelurahan Bekasijaya, Bekasi Timur, Sabtu (9/10). (COK/ARN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau