Atasi banjir rob

Bendungan Raksasa Akan Dibangun Di Jakut

Kompas.com - 11/10/2010, 10:57 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana pembangunan bendungan raksasa di sepanjang pantai utara Jakarta untuk mengantisipasi banjir rob bakal segera terealisasi. Pembangunan itu diharapkan terintegrasi dengan wilayah Bekasi dan Tangerang.

Pemerintah Provinsi DKI dibantu tim ahli dari Belanda saat ini melakukan studi kelayakan (feasibility study) rencana pembangunan itu. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Sarwo Handayani menyatakan, feasibility study akan diselesaikan selama enam bulan ke depan.

"Feasibility study bendungan bisa dimulai karena pada 2009 KLHS (kajian lingkungan hidup strategis) untuk reklamasi DKI sudah selesai dan dalam enam bulan ini diharapkan studi kelayakannya selesai," katanya saat ditemui Balai Kota DKI, akhir pekan lalu.

Dengan selesainya KLHS, kata Sarwo, bukan berarti kajian itu final, karena pemerintah pusat meminta untuk mengintegrasikan rencana itu dengan kawasan barat dan timur atau dimulai dari Bekasi hingga Tangerang.

Pembangunan bendungan besar di sepanjang pantai Jakarta tersebut bersifat mendesak, karena dampak perubahan iklim mengakibatkan permukaan air laut terus mengalami kenaikan.

Sementara dengan kondisi daratan, kata Sarwo, sebesar 40 persen di bawah permukaan air laut. Kondisi itu akan semakin parah dengan adanya penurunan muka tanah setiap tahun. Dalam penanggulangan bencana banjir itu, Belanda membantu studi Jakarta Flood Management.

Sebelumnya, Gubernur DKI Fauzi Bowo menyatakan, pihaknya segera merealisasikan pembangunan bendungan raksasa sepanjang pantai utara Jakarta, dan negara Belanda membantu teknis pendanaan dari Bank Dunia.

Sesuai prosedur, untuk bisa mencairkan dana pinjaman harus oleh pemerintah pusat, karena megaproyek penanggulangan banjir pantura jangka panjang itu akan melibatkan pusat seperti halnya pembangunan mass rapid transit (MRT).

Fauzi mengatakankan, pembangunan bendungan juga melibatkan daerah sekitar seperti Bekasi dan Tangerang. Hal itu membutuhkan koordinasi pemerintah pusat. Dalam pembangunan itu, kata Fauzi, yang masih dikaji adalah teknis bendungan.

"Apakah nantinya dibangun menutup seluruh pantai dan pelabuhan ada di luar bendungan atau pelabuhan untuk tambatan kapal ada di dalam bendungan dengan dibuatkan pintu besar yang memungkinkan kapal besar keluar masuk," katanya.

Untuk opsi yang terakhir, kata Fauzi, pihaknya telah melakukan studi banding di St Petersburg, Rusia, tahun 2009. Kota yang selalu kebanjiran dua meter tersebut, kontur tanahnya mirip seperti Jakarta Utara.

Untuk mengadang banjir, kata Fauzi, Pemerintah Rusia membangun bendungan sepanjang 40 km, di atas bendungan dibangun jalan layang yang menghubungkan antarkota. Sementara di dalam bendungan dibangun pelabuhan besar untuk menampung kapal-kapal yang lewat.

Agar kapal besar bisa lewat dibangun pintu sepanjang 200 meter. Sedangkan untuk jalur kapal kecil dibuat pintu sepanjang 100 meter. Jika ada rob datang, pintu langsung ditutup. Namun, pada hari biasa, pintu dibuka untuk mengalirkan air dari darat ke laut.

Menurut Fauzi, dengan membangun bendungan sepanjang pantai Jakarta itu, ada dua keuntungan besar yang bisa diperoleh. "Banjir bisa diadang dan penambahan ruas jalan melalui pembangunan jalan layang di atas bendungan bisa mengurai kemacetan. Jika diterapkan di Jakarta Utara, jalan layang itu bisa menghubungkan Tangerang bagian barat hingga Muara Gembong Bekasi," katanya. (moe)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau