JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana pembangunan bendungan raksasa di sepanjang pantai utara Jakarta untuk mengantisipasi banjir rob bakal segera terealisasi. Pembangunan itu diharapkan terintegrasi dengan wilayah Bekasi dan Tangerang.
Pemerintah Provinsi DKI dibantu tim ahli dari Belanda saat ini melakukan studi kelayakan (feasibility study) rencana pembangunan itu. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Sarwo Handayani menyatakan, feasibility study akan diselesaikan selama enam bulan ke depan.
"Feasibility study bendungan bisa dimulai karena pada 2009 KLHS (kajian lingkungan hidup strategis) untuk reklamasi DKI sudah selesai dan dalam enam bulan ini diharapkan studi kelayakannya selesai," katanya saat ditemui Balai Kota DKI, akhir pekan lalu.
Dengan selesainya KLHS, kata Sarwo, bukan berarti kajian itu final, karena pemerintah pusat meminta untuk mengintegrasikan rencana itu dengan kawasan barat dan timur atau dimulai dari Bekasi hingga Tangerang.
Pembangunan bendungan besar di sepanjang pantai Jakarta tersebut bersifat mendesak, karena dampak perubahan iklim mengakibatkan permukaan air laut terus mengalami kenaikan.
Sementara dengan kondisi daratan, kata Sarwo, sebesar 40 persen di bawah permukaan air laut. Kondisi itu akan semakin parah dengan adanya penurunan muka tanah setiap tahun. Dalam penanggulangan bencana banjir itu, Belanda membantu studi Jakarta Flood Management.
Sebelumnya, Gubernur DKI Fauzi Bowo menyatakan, pihaknya segera merealisasikan pembangunan bendungan raksasa sepanjang pantai utara Jakarta, dan negara Belanda membantu teknis pendanaan dari Bank Dunia.
Sesuai prosedur, untuk bisa mencairkan dana pinjaman harus oleh pemerintah pusat, karena megaproyek penanggulangan banjir pantura jangka panjang itu akan melibatkan pusat seperti halnya pembangunan mass rapid transit (MRT).
Fauzi mengatakankan, pembangunan bendungan juga melibatkan daerah sekitar seperti Bekasi dan Tangerang. Hal itu membutuhkan koordinasi pemerintah pusat. Dalam pembangunan itu, kata Fauzi, yang masih dikaji adalah teknis bendungan.
"Apakah nantinya dibangun menutup seluruh pantai dan pelabuhan ada di luar bendungan atau pelabuhan untuk tambatan kapal ada di dalam bendungan dengan dibuatkan pintu besar yang memungkinkan kapal besar keluar masuk," katanya.
Untuk opsi yang terakhir, kata Fauzi, pihaknya telah melakukan studi banding di St Petersburg, Rusia, tahun 2009. Kota yang selalu kebanjiran dua meter tersebut, kontur tanahnya mirip seperti Jakarta Utara.
Untuk mengadang banjir, kata Fauzi, Pemerintah Rusia membangun bendungan sepanjang 40 km, di atas bendungan dibangun jalan layang yang menghubungkan antarkota. Sementara di dalam bendungan dibangun pelabuhan besar untuk menampung kapal-kapal yang lewat.
Agar kapal besar bisa lewat dibangun pintu sepanjang 200 meter. Sedangkan untuk jalur kapal kecil dibuat pintu sepanjang 100 meter. Jika ada rob datang, pintu langsung ditutup. Namun, pada hari biasa, pintu dibuka untuk mengalirkan air dari darat ke laut.
Menurut Fauzi, dengan membangun bendungan sepanjang pantai Jakarta itu, ada dua keuntungan besar yang bisa diperoleh. "Banjir bisa diadang dan penambahan ruas jalan melalui pembangunan jalan layang di atas bendungan bisa mengurai kemacetan. Jika diterapkan di Jakarta Utara, jalan layang itu bisa menghubungkan Tangerang bagian barat hingga Muara Gembong Bekasi," katanya. (moe)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang