Produksi Ubi Cilembu Turun hingga 70 Persen

Kompas.com - 11/10/2010, 12:37 WIB

Sumedang, Kompas - Produksi ubi di Desa Cilembu, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, berkurang hingga 70 persen akibat cuaca yang tidak menentu. Hujan yang terus mengguyur membuat ubi lebih cepat membusuk sehingga produksi anjlok.

Hermansyah (34), warga Cilembu, Sabtu (9/10) di Sumedang, mengatakan, cuaca mulai mengganggu produksi sejak empat bulan lalu. Dengan ladang ubi seluas sekitar 1 hektar, ia biasa memanen 8-10 ton ubi setiap enam bulan. "Tetapi, cuaca mulai aneh sejak empat bulan lalu. Produksi turun drastis menjadi hanya 2,5 ton," kata Hermansyah.

Petani ubi di Cilembu, Taryana (35) yang punya lahan 2 hektar, menambahkan, produksi ubinya tahun ini diperkirakan sekitar 20 ton. Jumlah itu anjlok dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang sekitar 40 ton. Curah hujan yang tinggi juga dituding sebagai penyebab turunnya produksi. "Sejak Maret, hujan masih sering turun. Ubi yang saya tanam macam-macam, seperti jepang, ungu, merah, dan taiwan," ujarnya.

Menurut Taryana, sudah banyak petani di Cilembu yang beralih menjadi peternak sapi. Selain karena cuaca, harga yang sulit naik memicu warga enggan menjadi petani ubi. Harga ubi saat ini rata-rata sekitar Rp 2.000 per kilogram.

Sekitar 10 tahun lalu, tutur Tar-yana, jumlah petani di Cilembu sekitar 2.000 orang. Kini jumlah itu hanya sekitar 700 orang. Dalam rentang waktu yang sama, produksi ubi juga turun dari 1,5 ton menjadi hanya 200 kg per 1.000 meter persegi.

Bukan hanya cuaca

Peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Agung Karuniawan, menuturkan, hujan yang berkepanjangan membuat banyak lahan ubi gagal panen. Akan tetapi, penurunan produktivitas ubi tidak hanya disebabkan cuaca.

Faktor lain yang juga berpengaruh adalah kualitas setek. "Setek yang digunakan dari indukan asli secara turun-temurun dan itu sudah berlangsung lebih dari 50 tahun. Mungkin dari zaman penjajahan Jepang," kata Agung.

Sistem itu tidak bagus untuk produksi. Rata-rata produktivitas pun turun dari 70 kg per hektar sekali panen menjadi kurang dari seperlimanya saat ini. Agung mengatakan, pihaknya sedang berupaya meningkatkan produktivitas ubi dengan perbaikan genetis. Penelitian yang sudah berlangsung sejak 2009 itu diharapkan selesai pada triwulan I-2011.

Setelah itu, ubi bisa diproduksi massal bila memungkinkan. Sejauh ini hasil penelitian itu menunjukkan, ubi dapat dipanen setiap empat bulan. Rentang waktu tersebut lebih singkat dari panen ubi pada umumnya setiap 6-8 bulan. "Kualitas rasa ubi juga akan diteliti. Kami akan tes berbagai kandungannya, seperti gula, air, dan abu," ujar Agung.

Setiap tanaman biasanya menghasilkan maksimal 10 ubi dengan berat total kurang dari 500 gram. Tanaman yang sedang diuji coba bisa menghasilkan hingga 10 ubi seberat total 1 kg.

Panen yang dihasilkan ubi biasa sekitar 10 ton per hektar per panen. Hasil itu diprediksi meningkat hingga 20-30 ton per hektar dengan ubi penelitian. Riset juga dilakukan terhadap kebiasaan petani yang menggunakan cabang terdekat dengan batang utama tanaman untuk setek. (bay)

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau