Sumedang, Kompas - Produksi ubi di Desa Cilembu, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, berkurang hingga 70 persen akibat cuaca yang tidak menentu. Hujan yang terus mengguyur membuat ubi lebih cepat membusuk sehingga produksi anjlok.
Hermansyah (34), warga Cilembu, Sabtu (9/10) di Sumedang, mengatakan, cuaca mulai mengganggu produksi sejak empat bulan lalu. Dengan ladang ubi seluas sekitar 1 hektar, ia biasa memanen 8-10 ton ubi setiap enam bulan. "Tetapi, cuaca mulai aneh sejak empat bulan lalu. Produksi turun drastis menjadi hanya 2,5 ton," kata Hermansyah.
Petani ubi di Cilembu, Taryana (35) yang punya lahan 2 hektar, menambahkan, produksi ubinya tahun ini diperkirakan sekitar 20 ton. Jumlah itu anjlok dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang sekitar 40 ton. Curah hujan yang tinggi juga dituding sebagai penyebab turunnya produksi. "Sejak Maret, hujan masih sering turun. Ubi yang saya tanam macam-macam, seperti jepang, ungu, merah, dan taiwan," ujarnya.
Menurut Taryana, sudah banyak petani di Cilembu yang beralih menjadi peternak sapi. Selain karena cuaca, harga yang sulit naik memicu warga enggan menjadi petani ubi. Harga ubi saat ini rata-rata sekitar Rp 2.000 per kilogram.
Sekitar 10 tahun lalu, tutur Tar-yana, jumlah petani di Cilembu sekitar 2.000 orang. Kini jumlah itu hanya sekitar 700 orang. Dalam rentang waktu yang sama, produksi ubi juga turun dari 1,5 ton menjadi hanya 200 kg per 1.000 meter persegi.
Bukan hanya cuaca
Peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Agung Karuniawan, menuturkan, hujan yang berkepanjangan membuat banyak lahan ubi gagal panen. Akan tetapi, penurunan produktivitas ubi tidak hanya disebabkan cuaca.
Faktor lain yang juga berpengaruh adalah kualitas setek. "Setek yang digunakan dari indukan asli secara turun-temurun dan itu sudah berlangsung lebih dari 50 tahun. Mungkin dari zaman penjajahan Jepang," kata Agung.
Sistem itu tidak bagus untuk produksi. Rata-rata produktivitas pun turun dari 70 kg per hektar sekali panen menjadi kurang dari seperlimanya saat ini. Agung mengatakan, pihaknya sedang berupaya meningkatkan produktivitas ubi dengan perbaikan genetis. Penelitian yang sudah berlangsung sejak 2009 itu diharapkan selesai pada triwulan I-2011.
Setelah itu, ubi bisa diproduksi massal bila memungkinkan. Sejauh ini hasil penelitian itu menunjukkan, ubi dapat dipanen setiap empat bulan. Rentang waktu tersebut lebih singkat dari panen ubi pada umumnya setiap 6-8 bulan. "Kualitas rasa ubi juga akan diteliti. Kami akan tes berbagai kandungannya, seperti gula, air, dan abu," ujar Agung.
Setiap tanaman biasanya menghasilkan maksimal 10 ubi dengan berat total kurang dari 500 gram. Tanaman yang sedang diuji coba bisa menghasilkan hingga 10 ubi seberat total 1 kg.
Panen yang dihasilkan ubi biasa sekitar 10 ton per hektar per panen. Hasil itu diprediksi meningkat hingga 20-30 ton per hektar dengan ubi penelitian. Riset juga dilakukan terhadap kebiasaan petani yang menggunakan cabang terdekat dengan batang utama tanaman untuk setek. (bay)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang