Pariwisata

Potensi Wisata Jawa Barat Perlu Dikelola Lebih Baik

Kompas.com - 11/10/2010, 15:14 WIB

Cirebon, Kompas - Pariwisata di Cirebon harus dibenahi agar bisa menarik lebih banyak wisatawan asing dan dalam negeri. Selama ini Cirebon memiliki potensi wisata budaya serta religi yang besar, tetapi belum dikelola dan dikemas dengan menarik.

Hal itu diungkapkan pembina Yayasan Prima Ardian Tana, Iman Taufik, seusai meresmikan dimulainya acara 5.000 Topeng Kreatif Buatanku dalam rangka Festival Topeng Nusantara, Minggu (10/10) di Gedung Negara, Kota Cirebon. Iman mengakui, sejumlah faktor penting mesti dibenahi untuk bisa mengangkat sektor wisata.

Sektor itu, antara lain, kondisi infrastruktur. Di negara tetangga, sistem transportasi dan infrastruktur yang bagus menjadi kunci pengembangan pariwisata. Panjang jalan di Malaysia, misalnya, mencapai 40.000 kilometer sampai ke pelosok. Jarak jauh pun bisa ditempuh dengan lebih cepat.

Di Indonesia, untuk mencapai Cirebon, wisatawan dari Jakarta harus menempuh perjalanan tiga jam dengan kereta api. "Itu pun banyak rekan di kedutaan asing yang khawatir naik KA setelah ada kecelakaan," katanya.

Selain infrastruktur, kebiasaan warga pun perlu ditata. Pengemis di berbagai tempat ziarah memperlemah promosi wisata karena wisatawan jadi tak nyaman berkunjung. Pemeliharaan situs-situs sejarah pun penting. Sebab, jika tak dipelihara, nilai jual pariwisatanya akan berkurang.

Netty Heryawan, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Jawa Barat, juga menekankan pentingnya pengemasan produk wisata. Namun, pengemasan wisata terkadang dilewatkan oleh pegiat wisata di daerah. "Seperti minum kopi. Kalau di warung hanya Rp 2.000 segelas, tapi kalau di kafe bisa mahal. Itu karena kemasan yang disajikan lebih menarik. Cara ini bisa diadopsi dalam sistem pariwisata kita," ujar Netty.

Kegiatan wisata budaya juga perlu didukung suasana yang kondusif serta nilai tambah yang bisa diperoleh wisatawan. Menurut dia, penyiapan aturan serta sarana-prasarana wisata adalah hal mutlak bagi pemerintah daerah dan sektor swasta.

Jika sektor wisata bisa dibenahi, diharapkan promo wisata bisa berjalan baik dan angka kunjungan wisata akan meningkat.

Selama tahun 2006-2008 kunjungan wisatawan di Kabupaten/Kota Cirebon rata-rata 1,8 juta orang atau sekitar 7 persen dari total kunjungan wisatawan di Jabar yang rata-rata 25 juta orang per tahun. Kunjungan wisatawan banyak terfokus pada obyek wisata budaya dan religi, seperti Keraton Kasepuhan, Kanoman, Kacirebon, dan Makam Sunan Gunung Jati.

Keberadaan Festival Topeng Nusantara yang akan diagendakan setiap tahun di Cirebon, lanjut Netty, diharapkan bisa mendongkrak jumlah wisatawan ke Cirebon dan sekitarnya. Festival itu akan menjadi agenda tahunan bersama acara lain, seperti ritual nadran, panjang jimat, Ganjene Cerbon, dan grebeg syawal. (NIT/THT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau