JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, BUMN harus memiliki kompetensi untuk mampu bersaing secara global. Menurutnya, BUMN tidak boleh manja meskipun pemerintah selalu berupaya memberikan keistimewaan khusus pada masing-masing BUMN dengan keberpihakan kebijakan dan insentif.
"Saya tak suka BUMN manja. BUMN harus juga bisa bersaing dengan swasta dan BUMN negara lain, harus menghasilkan profit, berikan deviden, dan bayar pajak. Tapi tetap harus punya public service obligation dan bisa melakukan keperintisan dunia usaha," ungkapnya ketika memberikan pembekalan kepada 99 peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) XLIV di Istana Negara, Senin (11/10/2010).
Menurut SBY, BUMN yang manja sulit untuk bertumbuh dan bersaing. Oleh karena itu, BUMN yang ideal seharusnya menghasilkan untung, bukan dan tidak selalu rugi.
SBY juga sempat mengingatkan tentang makna privatisasi yang menjadi paparan kesimpulan seminar para peserta pendidikan Lemhanas ini.
Sebelumnya, perwakilan peserta memaparkan rekomendasi agar pemerintah meninjau kembali privatisasi BUMN dengan mempertimbangkan kembali industri strategis yang menjamin pemenuhan kebutuhan hajat hidup orang banyak.
"Hati-hati pula memahami privatisasi. Saya sendiri sangat selektif dalam mengizinkan privatisasi. Itu ada pro dan kontranya. Itu juga macam-macam, ada yang dijual ke publik, ada yang ke swasta, ada pula yang paduan. Itu membawa dampak positif untuk case-case tertentu. Tapi bisa juga negatif," tuturnya.
Namun, lanjut SBY, privatisasi industri berkaitan dengan kepentingan nasional yang vital mesti dicegah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang