Mafia pajak

Gayus Ragukan Kesaksian Deny

Kompas.com - 11/10/2010, 18:13 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Terdakwa Gayus HP Tambunan meragukan kesaksian Sekretaris Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, Deny Indrayana, terkait pertemuan antara dirinya dan Satgas di Singapura. Keraguan itu terkait pernyataan Deny bahwa pertemuan Satgas dengan Gayus di Orchard Road, Singapura, pada akhir Maret 2010 tidak disengaja.

Gayus mengatakan, ia pernah dihubungi Kombes M Iriawan, Wakil Direktur I Keamanan Transnasional Bareskrim Polri, pada 30 Maret 2010 ketika berada di Singapura. "Tapi saya tidak tahu untuk membahas apa. Mungkin sekitar kasus saya. Saya rasa Satgas dan Bareskrim sudah koordinasi sebelumnya. Jadi tidak mungkin ada ketidaksengajaan bertemu," kata Gayus seusai mendengar kesaksian Deny di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (11/10/2010).

Saat bersaksi, Deny mengatakan, pihaknya pernah bertemu tiga kali dengan Gayus di kantor Satgas sebelum Gayus kabur ke Singapura. Gayus, kata Deny, kabur lantaran takut dijadikan tersangka setelah Andi Kosasih menyerahkan diri ke Bareskrim Polri.

Setelah Gayus kabur, jelas Deny, ia bersama anggota Satgas Mas Ahmad Santosa alias Ota lalu bertolak ke Singapura. Di sana keduanya sempat bertemu Kabareskrim Polri Komjen Ito Sumardi yang juga akan menjemput Gayus. "Kami tanya di mana Gayus? Dibilang masih dalam pencarian," kata Deny.

Menurut Deny, ketika ia dan Ota akan makan malam di Asian Food Mall, Lucky Plaza, Orchard Road, tanpa disengaja Ota melihat Gayus di salah satu stan makanan. Saat itu Gayus sendirian. "Pak Ota bilang ada Gayus. Kita samperin. Saya tanya, 'Yus lagi ngapain?' (Gayus jawab) 'Ngikutin ya mas?' (Deny jawab) 'Enggak'," jelas dia.

Deny mengakui bahwa pertemuan yang tidak disengaja itu diragukan oleh banyak pihak. Namun, di bawah sumpah Deny menegaskan bahwa pertemuan itu tidak disengaja. "Saat itu dua jam pembicaraan. Pertama kami yakinkan dia untuk pulang. Kalau tidak pulang, bisa ditangkap Imigrasi Singapura karena paspor sudah dicabut. Pilihannya jadi pendatang ilegal atau kembali ke Indonesia," kata Deny.

"Gayus saat itu tanyakan perlindungan semacam apa yang diberikan jika dia pulang. Saya sampaikan kita tidak bisa beri janji. Tapi kami bisa upayakan proses hukum berjalan baik tanpa penyiksaan. Lalu Gayus bilang ingin bicara dengan istrinya. Terus datang penyidik. Kita lalu naik ke hotel, tapi cuma sampai lorong, enggak masuk kamar," papar Deny.

"Setelah berbicara dengan istrinya, kita ajak Gayus ke hotel kami. Di situ Gayus ketemu Pak Ito. Di situ ada satgas dan staf kedutaan untuk persiapkan kepulangan," tambah dia. Kemudian, Gayus, Satgas, dan penyidik kembali ke Jakarta keesokan hari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau