KUDUS, KOMPAS
Dari delapan korban, lima di antaranya dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kudus. Mereka adalah Budi (39), Sudarminingsih, Sonah (39), Kusni (39), dan Amrul (7).
Tiga korban lainnya dirawat di Rumah Sakit Mardi Rahayu. Mereka adalah Suyoyo, Rubiah (38), dan Rusman (38).
Ledakan tabung gas itu terjadi ketika sedang berlangsung sembahyangan puputan bayi, Minggu (10/10) pukul 19.30. Saat itu tabung gas yang digunakan baru dipasang—menggantikan tabung yang sudah kosong.
Dokter spesialis bedah RSUD Kudus, Tri Djoko Widagdo, mengatakan, dua korban yang mengalami luka bakar tingkat dua (harus menjalani pembedahan) adalah Budi dan Sudarminingsih. Tubuh Budi terbakar hingga 80 persen, sedangkan Sudarminingsih 50 persen. ”Kami telah menangani korban, (antara lain), mengganti cairan tubuh mereka dengan infus dan membersihkan luka,” kata Djoko.
Budi dan Sudarminingsih, kata Djoko, butuh perawatan khusus karena lukanya berpotensi terkena infeksi. Untuk mencegahnya, sekujur tubuh korban dibalut dengan perban.
Aris (27), keluarga Budi, meminta pemerintah tidak melanjutkan program elpiji 3 kilogram ini (konversi minyak tanah ke gas) karena membahayakan masyarakat. Dia juga berharap PT Pertamina bertanggung jawab atas kasus ledakan elpiji ini dengan membiayai korban ledakan hingga benar-benar sembuh.
Menanggapi permintaan itu, Kepala Subbagian Pusat Informasi Pelayanan RSUD Kudus Suvi’ah mengatakan, biaya perawatan bakal ditanggung PT Pertamina. Pihaknya telah menerbitkan surat jaminan perawatan korban hingga sembuh.
Sales Representative Region IV Gas Domestik Region III PT Pertamina Herdi Surya Indrawan mengatakan, Pertamina telah mengecek lokasi kejadian dan mendata korban. Di lokasi kejadian, Pertamina mendapati gas keluar dari tabung akibat pentil tabung terganjal serpihan kayu sebesar kuku orang dewasa. Akibatnya, gas menyebar dengan
Ledakan diduga kuat dipicu listrik atau api kompor yang sedang menyala. Serpihan kayu itu diduga berasal dari sekitar tempat gas diletakkan.