Jakarta, Kompas
Presiden mengharapkan, tim sepak bola nasional memahami kekuatan dan kelemahan timnya dengan baik. Dengan begitu, dalam permainan bola, timnas juga tahu persis kapan mesti bertahan dan kapan harus menyerang untuk merebut kemenangan.
”Harapan saya, PSSI kita juga paham
Presiden mencontohkan, dalam pertandingan persahabatan timnas Indonesia melawan Uruguay pekan lalu, timnas memilih bertahan sekuat mungkin, walaupun pada akhirnya juga berusaha menyerang dan merebut peluang.
Perbedaan kelas yang amat jauh, menurut Presiden, membuat timnas harus menelan kebobolan tujuh gol. Tanpa upaya maksimal untuk bertahan sangat mungkin gawang timnas Indonesia kebobolan lebih banyak lagi.
”Pertimbangannya, kalau sudah dibawa oleh striker dari Uruguay pasti jebol. Karena itulah dibangun pertahanan sekuat mungkin. Tidak salah itu, kalau tidak kebobolan berkali-kali pasti lebih banyak lagi,” ujar Presiden.
Diingatkan Presiden, timnas Uruguay menduduki peringkat ke-7 dunia dan merebut posisi juara ke-4 dalam Piala Dunia lalu, sedangkan Indonesia saat ini berada pada peringkat ke-131.
”Memang beda kelasnya, jauh. Jadi jangan salahkan PSSI, jangan salahkan pemain kita. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga. Alhamdulillah, masukkan dulu satu gol,” ujarnya.
Menurut Presiden, ketika berhadapan dengan Uruguay, timnas bukan sekadar berusaha berta-
”Kalau saudara ingat pada 20 menit terakhir, meskipun sudah berusaha bertahan dan kita kebobolan juga, lalu mulai ada
Presiden berharap, pemahaman kapan harus bertahan karena menghadapi ancaman dan kapan harus menyerang itu juga dapat diterapkan oleh timnas dalam laga menghadapi lawan tanding dari negara-negara ASEAN tahun depan.