Belum dapat izin

Lawatan Rainbow Warrior Terancam Batal

Kompas.com - 12/10/2010, 22:59 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana lawatan kapal Rainbow Warrior, kapal milik organisasi lingkungan internasional Greenpeace terancam batal karena hingga Selasa (12/10/2010) malam kapal itu belum mendapatkan izin memasuki perairan teritorial Indonesia. Kapal Rainbow Warrior berada di Asia Tenggara dalam rangkaian tur “Turn the Tide” dan rencananya akan bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta pada Rabu (13/10/2010).   Karena Rainbow Warrior belum mengantongi izin untuk memasuki perairan Indonesia, Juru Kampanye Media Greenpeace Asia Tenggara, Hikmat Soeriatanuwijaya mengumumkan pihaknya membatalkan sejumlah acara yang akan diselenggarakan pada Rabu. “Kami masih menunggu konfirmasi dari instansi terkait,” kata Hikmat, Selasa.   Juru kampanye hutan Greenpeace Asia Tenggara, Bustar Maitar, menjelaskan Rainbow Warrior tidak bisa memasuki perairan Indonesia karena belum menerima izin masuk dari Kementerian Luar Negeri, Mabes TNI, dan Kementerian Perhubungan. Dan itu membutuhkan persetujuan awal dari Kementerian Luar Negeri.   ”Kami setiap hari mengecek perkembangan perizinan itu, tetapi sampai Selasa tidak ada pernyataan resmi bahwa Rainbow Warrior bisa memasuki perairan Indonesia. Kami masih berharap Rainbow Warrior diizinkan berlabuh di Tanjung Priok,” kata Maitar.   Pada hari Rabu pagi, sedianya Rainbow Warrior tiba di Tanjung Priok, dan mendapatkan penyambutan. “Ada pesta selamat datang bagi Rainbow Warrior. Setelah itu para awak akan melayani para jurnalis yang ingin menulis menulis tentang tur Rainbow Warrior, atau mewawancarai awak. Seluruh acara yang dijadwalkan Rabu dibatalkan,” kata Hikmat.   Kemungkinan warga DKI Jakarta akan kehilangan kesempatan mengunjungi kapal legendaris Greenpeace itu. Sedianya, pada Jumat dan Sabtu pekan ini Greenpeace akan memberi kesempatan kepada semua orang, khususnya siswa sekolah, untuk naik ke Rainbow Warrior dan mengenal sejarah Greenpeace maupun kapal itu.    Greenpeace juga terpaksa memindahkan lokasi sejumlah acara dan kampanye penyelamatan lingkungan yang akan diselenggarakan pada Kamis. Awalnya Greenpeace akan menggelar diskusi Moratorium Oslo yang disepakati oleh Indonesia dan Norwegia.   “Diskusi yang awalnya akan diselenggarakan di atas Rainbow Warrior itu mengundang sejumlah duta besar negara donor perlindungan hutan Indonesia, termasuk Norwegia. Direktur Greenpeace Internasional, Kumi Naidoo, juga akan menghadiri diskusi itu. Kami tetap akan menyelenggarakan diskusi itu, tetapi kami masih mencari lokasi pelaksanaan diskusi,” kata Hikmat.   Menurutnya kapal yang membawa 15 awak itu  akan melakukan aksi apa pun selain berkampanye tentang pembangunan yang lebih bertanggung jawab secara lingkungan dan sosial. “Materi kampanye adalah bagaimana negara berkembang seperti Indonesia bisa mencegah dampak perubahan iklim, dengan mempromosikan energi terbarukan dan menyelamatkan hutan,” kata Hikmat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau