Tokoh pergerakan

IJ Kasimo Layak Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Kompas.com - 13/10/2010, 02:56 WIB

Jakarta, Kompas - Ketua Partai Katolik Ignatius Joseph Kasimo (1900-1986) dinilai sangat layak mendapat gelar Pahlawan Nasional. Sebagai tokoh pergerakan awal kemerdekaan, Kasimo turut berjasa memperjuangkan pluralisme di Indonesia. Sebagai pemimpin yang jujur, berani, dan konsisten, Kasimo juga memberikan teladan nyata dalam pengabdian tanpa pamrih bagi bangsa serta bagaimana berpolitik yang beretika dan bermartabat.

Demikian benang merah dari seminar nasional bertajuk ”Politik Bermartabat, Kajian tentang Perjuangan dan Pengabdian IJ Kasimo”, Selasa (12/10) di Hotel Santika, Jakarta. Hadir sebagai pemakalah seminar, sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam. Sementara advokat Adnan Buyung Nasution, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Komaruddin Hidayat, dan putra tokoh pergerakan Sjafruddin Prawiranegara, Farid Prawiranegara, menjadi penanggap.

Seminar juga dihadiri sejumlah tokoh, antara lain Ketua MPR Taufiq Kiemas, ekonom JB Sumarlin, mantan Menteri Tenaga Kerja Cosmas Batubara, sejarawan Anhar Gonggong, dan peneliti senior Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Harry Tjan Silalahi.

Menurut Asvi, Kasimo sangat berjasa dalam mengubah citra golongan Katolik sebagai unsur yang melekat dari kolonialisme menjadi bagian integral dari bangsa Indonesia. Kasimo berjuang sejak menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) dengan gagasan mendukung perjuangan kemerdekaan.

Kasimo pernah menjadi Menteri Muda Kemakmuran (1947-1948), Menteri Persediaan Makanan Rakyat (1948-1949 dan 1949-1950), Menteri Kemakmuran (1949-1950), dan Menteri Perekonomian (1955-1956). Selama menjadi menteri, ia mengusahakan swasembada pangan ketika hubungan dengan dunia luar terputus. Dalam persidangan di Konstituante, Kasimo juga turut memperjuangkan Pancasila sebagai dasar negara.

”Kasimo sebagai teladan adalah orang yang layak menjadi Pahlawan Nasional,” kata Asvi.

Taufiq melihat, sekarang ini sulit menemukan tokoh yang menjalankan politik bermartabat. ”Sekarang ini banyak yang bicara pluralisme, tetapi melaksanakannya sulit sekali. Berbeda dengan Kasimo yang tidak hanya bicara pluralisme, tetapi juga melebur dalam kebangsaannya. Kita harus belajar dari tokoh pendiri bangsa, di mana pluralisme mereka melebur dalam perasaan,” katanya. ”Sangat wajar Kasimo yang menjalankan politik bermartabat dan melebur dengan pluralismenya mendapat gelar Pahlawan Nasional. Seharusnya tidak usah meminta, pemerintah sendiri yang harus memberikan gelar itu,” ujarnya.

Komaruddin melihat Kasimo dan para pendiri bangsa memiliki visi yang jauh ke depan soal Indonesia yang majemuk. (why)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau