Dinda Rella, Butik Gaun Feminin nan Seksi

Kompas.com - 13/10/2010, 12:59 WIB

KOMPAS.com - Berawal dari seorang model di usia belasan tahun, lalu beranjak menjadi seorang eksportir busana, Putri Mertaningsih memberikan warna baru pada dunia fashion Indonesia dengan labelnya, Dinda Rella. Meski baru 4 tahun memulai kiprah menjadi perancang, Putri kini sudah memiliki 6 outlet di Bali dan 1 di Jakarta. Rancangannya, gaun feminin, seksi, yang nyaman.

Putri mendesain busananya untuk para wanita yang ingin tampil seksi, feminin, praktis, tanpa meninggalkan kenyamanan. Terlihat dari gaun-gaun cocktail, long, dan gaun pernikahan. Kebanyakan busana yang diperkenalkan kepada wartawan pada peresmian pembukaan butiknya di Jl. Kemang Raya no. 27 D, Selasa, (12/10/2010) kemarin merupakan gaun mini dengan kesan melambai.

"Koleksi busana saya lebih ke arah simple. Saya tinggal di Bali, dan kebanyakan peminat di sana minta busana yang glamor tetapi mudah dipakai. Sama seperti koleksi bridal gown saya, yang tidak ballgown. Di Dinda Rella, kami menekankan kenyamanan," ujar Putri kepada Kompas Female usai peragaan busana.

Belum banyak yang mengenal perempuan asli Bali ini, ketika ditanyakan mengenai latar belakangnya, Dinda bertutur, "Dulu, saat masih berusia belasan tahun, saya menjadi model di Bali. Saya jadi banyak kesempatan memerhatikan pakaian dan akhirnya jatuh cinta dengan prosesnya. Setelah menikah, mertua sudah memiliki pabrik garmen, saya jadi punya akses belajar otodidak. Jadi sebenarnya saya tidak memiliki latar belakang pendidikan fashion. Tetapi sekian lama bergelut di dunia ekspor pakaian, saya jadi banyak belajar mengenai pakaian. Hingga memberanikan diri mencoba buka butik sendiri."

Koleksi Dinda Rella banyak memfokuskan pada detail di sekitar leher, dada, serta pinggang, sementara bagian lainnya dibiarkan menjuntai dan melambai. Menurut Putri, "Saya pikir kalau di daerah tersebut, pastinya wanita akan terlihat lebih menarik. Jika pandangan diarahkan ke bagian wajah atau atas tubuh, maka auranya akan terlihat lebih cantik."

"Di Bali, orang senang koleksi saya karena banyak terbuat dari handmade, sekaligus menyerap tenaga kerja," ujar Putri. Seperti dikatakan Putri, ia banyak mengupayakan teknik handmade dalam setiap busananya. Dari usahanya ini, Putri memiliki sekitar 200 pekerja yang membuat payet dan manik-manik , sulaman, dan aplikasi pada busananya. Karena tak hanya untuk memenuhi permintaan busana di dalam negeri, koleksi Dinda Rella juga diekspor ke berbagai negara, seperti Australia, Swiss, Spanyol, Belanda, Miami, Hong Kong, Kuwait, dan Dubai.

Mengenai koleksinya yang feminin, Putri bercerita, "Saya lebih senang memilih bahan yang jatuh, melayang, karena untuk wanita, akan membuatnya terlihat lebih slim. Bagaimana pun bentuknya, dengan atau tanpa lengan, pasti lebih terlihat slim. Style dan koleksi saya start dari ukuran Medium hingga XL dan mengikuti ukuran Australia. Justru di Jakarta, saya harus membuatnya jadi kecil. Saya berusaha membuat koleksi baru setiap dua bulan."

Untuk inspirasi, Dinda Rella selalu mengikuti arah tren mode di Eropa, meski ia hanya mengincar garis rancang yang bisa ia tambahkan elemen handmade. Tak hanya untuk urusan detail, pengerjaan pun beberapa dilakukan handmade. Misal, beberapa busana pewarnaannya dilakukan dengan teknik hand dyed, penyablonan, aplikasi, dan lainnya.  

Koleksi yang diklaim mengutamakan kenyamanan ini menggunakan bahan-bahan dari sifon, silk, satin silk, dan tulle. Biasanya bagian yang bersentuhan dengan kulit tubuh dibuat selembut mungkin dan menyerap keringat mengingat kita tinggal di wilayah tropis. Lihat koleksinya di sini.

Karena kerumitan dan butuh upaya lebih untuk membuatnya, tak heran, koleksi busana Dinda Rella dipatok cukup tinggi. Untuk busana cocktail dress, mulai dari Rp 1.500.000. Sementara untuk gaun pengantin, harganya mulai dari Rp 7-50 juta, tergantung detail dan aplikasi. Rencana ke depannya, Putri akan mengevaluasi toko pertamanya di Jakarta selama setahun, jika terus maju, ia akan membuka toko kedua.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau