Diakah, Cinta Sejati Kita?

Kompas.com - 13/10/2010, 20:24 WIB

KOMPAS.com - Banyak orang menyakini kita bisa mengetahui seseorang akan menjadi pasangan hidup kita atau tidak dari seberapa nyaman kita menghabiskan waktu bersamanya. Mulai dari sekadar ngobrol ringan sampai hang out berjam-jam hanya untuk mencari tahu apa yang menjadi kegemaran masing-masing.

Tetapi tak semua orang bisa dengan jelas membaca tanda-tanda apakah si dia memang layak dijadikan pasangan seumur hidup. Sebab perbedaan rasa nyaman menjadi teman dan pacar sangatlah tipis. Karena itu, tidak salah untuk memiliki “panduan” dalam membaca tanda-tanda, “Diakah, cinta sejati kita?"

#Tanda 1: Kita memiliki list lengkap apa-apa saja yang perlu dia hentikan jika status keterikatan hubungan semakin ditingkatkan. Mulai dari cara bicaranya, penampilannya, sampai apa yang menjadi kegemarannya. Karena jika kita bersikeras untuk memperbaiki “cela” ini maka kita akan mengubahnya menjadi orang lain. Lebih baik jujur pada diri sendiri dan keadaan, bahwa dia memang bukan untuk kita, daripada terlalu memaksakan diri dan membuang waktu percuma.

#Tanda 2: Kita tidak mempercayainya. Sedikit cemburu, bisa menjadi bumbu asmara. Tetapi jika kita “membuntuti” dia sampai harus membaca e-mail dan SMS-nya untuk mengetahui apa yang dilakukan selama satu hari penuh, ini adalah indikasi awal dari ketidakcocokan. Sebenarnya indikasi ini sangat kasat mata tapi kita sering berlindung dengan mengatakan apa yang kita lakukan dilakukan banyak perempuan di luar sana.

# Tanda 3: Sangat berusaha sekeras tenaga untuk menghindari konflik. Sama seperti rasa cemburu, kadang kala kita perlu sesekali berbeda pendapat. Sebab yang terpenting dari perselisihan adalah kemampuan kita dan pasangan untuk mencari jalan keluar. Inilah titik toleransi untuk memahami dan menerima karakter masing-masing. Menghindari masalah tidak selalu berarti kita adalah pasangan yang sejiwa, karena bisa jadi itu cara kita untuk lari dari masalah.

# Tanda 4: Dia bukanlah shoulder to cry on. Saat kita tengah terpuruk atau sedih, kita butuh seseorang yang melembutkan suasana. Jika kita tidak menemukan kenyamanan untuk mencurahkan perasaan dan air mata di depan dia, maka kita sebenarnya akan kesulitan menemukan ketenangan bersamanya. Karena Mr Right akan membuat kita tersenyum dan meredam segala ketakutan yang kita punya saat begitu banyak masalah datang menghadang.

#Tanda 5:
Kita tidak bisa menemukan visi yang jelas untuk membesarkan anak bersama. Menjadi orang tua adalah sebuah team work yang harus solid sepanjang masa. Karena itu, jika kita ragu akan bentuk kerja sama yang terjalin dengan partner tersebut maka lebih baik menerima bahwa dia memang bukan untuk kita.

#Tanda 6: Kita kesulitan untuk bisa saling menghargai. Coba amati, berapa kali kekasih hati kita mengolok-olok kita di depan teman-teman. Rasa cinta justru muncul karena kita dapat saling menghargai. Jadi kalau ini sudah tidak ada pada dirinya, untuk apa dipertahankan?

(Prevention Indonesia/Siagian Priska)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau