Inovasi pangan

Jadikan Industri sebagai Penghela Diversifikasi

Kompas.com - 14/10/2010, 03:12 WIB

Jakarta, Kompas - Ketergantungan konsumsi beras orang Indonesia bisa ditekan bila diversifikasi pangan berjalan. Diversifikasi membawa manfaat kalau pemerintah mampu mendorong lahirnya beragam inovasi produk pangan olahan berbahan baku lokal yang bisa diterima pasar.

Guru Besar Rkonomi dan Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor Endang Gumira Sa’id mengungkapkan hal itu, Rabu (13/10), saat dihubungi di Bogor, Jawa Barat.

Gumira dimintai tanggapan terkait semakin tingginya ketergantungan orang Indonesia terhadap beras sebagai sumber karbohidrat. Ini akan berdampak serius pada pemenuhan pangan nasional pada masa mendatang.

Menurut Gumira, agar produk pangan olahan bisa diterima pasar, harus ada inovasi yang menghasilkan beragam produk pangan olahan sehingga rasanya diterima secara universal, memiliki kekhasan, praktis, menarik dilihat, dan menggoda untuk disantap.

”Agar diversifikasi bisa berkelanjutan harus menguntungkan dari aspek bisnis karena industri harus dilibatkan sebagai penghela,” katanya.

Gumira menyatakan, di Indonesia kontribusi inovasi terhadap produk domestik bruto sangat rendah, baru 5,6 persen. Masih banyak komoditas yang belum menghasilkan nilai tambah dari rantai pengolahan.

Ekspor dan perdagangan produk pertanian juga masih didominasi komoditas, bukan produk olahan.

Konversi pengubahan komoditas menjadi produk olahan di Indonesia belum di atas 24 persen sehingga nilai tambah yang dihasilkan rendah.

Bandingkan dengan Thailand yang mencapai 60 persen, AS 86 persen, dan China di atas 50 persen. ”Ini hasil penelitian tahun 1980-an dan belum ada lagi penelitian terbaru,” katanya.

Di negara maju, yang menghela agribisnis dan agroindustri adalah industri. Inovasi akan terus berjalan kalau industri tampil sebagai penghela dan terus menciptakan pasar.

Turki mampu mengembangkan jajanan Turkish Delicatessen yang mendunia. Semula ini produk UKM, lalu diberi inovasi dengan menambahkan pemanis, jeli, almond, ataupun madu sehingga dikenal dunia.

Di Australia ada Nougat, produk kacang tanah bercampur wijen dan gula. Indonesia sesungguhnya juga bisa mengembangkannnya.

Hal itu misalnya dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber pangan lokal, seperti singkong, kacang, ubi jalar, sagu, sorgum, dan produk bahan pangan lokal, seperti cokelat.

Namun, itu masih dilakukan dalam skala kecil. Pasar juga belum digarap baik. Kepala Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Mulyono Machmur mengatakan, berkaca dari sukses menjadikan gandum sebagai substitusi nasi, ada keterlibatan industri makanan dalam pengembangannya.

Begitu industri pengolahan makanan berbasis gandum masuk, berbagai inovasi produk pangan olahan diciptakan, termasuk di antaranya mi instan.

Ini terjadi karena industri mampu mengolah gandum menjadi tepung terigu, yang kemudian bisa dijadikan sebagai bahan dasar beragam jenis makanan olahan.

Pola pengemasannya yang praktis, mudah dihidangkan, dan harganya murah karena dibuat dalam skala besar mendorong sukses peningkatan konsumsi pangan berbasis gandum.

Menurut Sekretaris Jenderal Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Rachmat Pambudy, bagi petani, masalah pangan bukan semata produksi, tetapi akses petani terhadap pangan melalui peningkatan pendapatan.

”Yang paling penting adalah bagaimana meningkatkan pendapatan petani karena itu yang menentukan akses terhadap pangan,” ujar Rachmat.

Dua pola diversifikasi

Menurut Gumira, sesungguhnya ada dua pola diversifikasi pangan. Pertama, dengan melakukan diversifikasi tanaman atau komoditas. Tujuannya, untuk mendapatkan nilai jual komoditas yang lebih tinggi.

Bisa juga dengan meningkatkan nilai tambah dari komoditas yang diusahakan. Dengan demikian, pendapatan akan meningkat dan mendorong pola konsumsi pangan berubah.

Kedua, melakukan diversifikasi konsumsi, termasuk mengajak masyarakat untuk mengonsumsi pangan nonberas berbahan baku lokal.

Sebelumnya, IPB telah meluncurkan produk unggulan inovasi di bidang pangan. Produk itu

telah diaplikasikan baik untuk produksi sendiri ataupun kerja sama dengan mitra usaha. (MAS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau