Pemindahan Gerbong Rusak Tertunda

Kompas.com - 15/10/2010, 03:40 WIB

Lebak, Kompas - Rangkaian kereta yang hangus terbakar di Stasiun Besar Rangkasbitung belum dapat dipindahkan. Semua gerbong itu tetap di lokasi kejadian menunggu proses selanjutnya, termasuk untuk rekonstruksi. Hal itu menyebabkan tiga dari lima rangkaian kereta menginap di stasiun lain.

”Untuk sementara tetap di situ, sampai pembakar kereta tertangkap dan proses rekonstruksi,” kata Kepala Kepolisian Resor Lebak Ajun Komisaris Besar Widoni Fedri, Kamis (14/10). Dia tidak menyebutkan batas waktu hingga kapan gerbong-gerbong itu ada di tempat kebakaran.

Kepala Stasiun Besar Rangkasbitung Suratman mengata- kan, hingga Kamis keterlambatan keberangkatan kereta masih terjadi, maksimal 17 menit. Kondisi itu lebih baik ketimbang sehari sebelumnya, yakni terlambat hingga satu jam dari jadwal.

Menurut Suratman, tiga rangkaian kereta berikut petugas pengawal diinapkan di Stasiun Citeras, Jambu, dan Catang, sedangkan lokomotifnya tetap di Stasiun Besar Rangkasbitung. Jadi, setiap dini hari, lokomotif berangkat menjemput rangkaian kereta di tiga stasiun.

”Kami berharap evakuasi lebih cepat. Kalau rangkaian kereta dapat menginap di Stasiun Besar Rangkasbitung, (hal itu) memudahkan pengawasan dan proses pelangsiran,” kata Suratman.

Setelah kebakaran, hanya dua rangkaian kereta yang bermalam di Stasiun Besar Rangkasbitung. Suratman mengatakan, pascakebakaran, jumlah penumpang tetap seperti biasa. ”Jumlah penumpang Senin sekitar 9.000 orang, sedangkan pada hari biasa 5.000-6.000 orang,” katanya.

Belum tertangkap

Widoni Fedri mengatakan, sekitar 120 polisi disebarkan untuk memburu pelaku utama pembakar rangkaian kereta. Mereka juga menyebarkan sketsa wajah pelaku demi memudahkan pencarian. Tim pencari antara lain dari Bareskrim, unit intel dan keamanan, serta Polda Banten.

”Dua orang masih diburu, yakni EO dan TP. Kami mengejar kedua orang itu ke rumahnya, tetapi tidak ada. Sepertinya, yang bersangkutan sudah tahu kalau dicari polisi,” kata Widoni.

Widoni menilai, sejauh ini sudah ada gambaran kasus kebakaran rangkaian kereta di Stasiun Besar Rangkasbitung Senin subuh lalu adalah sengaja dibakar.

Sementara itu, Kamis siang, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi datang ke Stasiun Besar Rangkasbitung dan melihat rangkaian gerbong yang terbakar. ”Investigasi KNKT no blame, bukan pro justicia. KNKT harus yang kecelakaan (accident), yang jelas di situ tidak ada unsur kesengajaan. Kasus ini lebih tepat pro justicia,” kata Tatang.

Dalam hal ini, KNKT memberi dukungan investigator profesional kepada kepolisian kalau diperlukan. Tatang menjelaskan, rangkaian kereta yang terbakar di Rangkasbitung berada pada posisi diam, belum ada lokomotifnya, sehingga belum dianggap sebagai kereta yang beroperasi.

Di sisi lain, KNKT menemukan indikasi yang sesuai dengan temuan dari kepolisian, yakni kasus terbakarnya rangkaian kereta di Stasiun Besar Rangkasbitung perlu diselidiki lebih lanjut. ”Ada kejanggalan dalam pola penyebaran api. Janggalnya, mengapa dalam waktu singkat dapat terbakar,” katanya. (CAS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau