Sekitar 10 tahun lalu, nama Wasior hanya menunjukkan sebuah ibu kota distrik atau kecamatan kecil di bawah Kabupaten Manokwari di Provinsi Papua sebelum Provinsi Papua Barat berdiri.
Seiring perkembangannya menjadi ibu kota di bawah Kabupaten Teluk Wondama tahun 2002, Wasior semakin ramai oleh perantau dari Pulau Sulawesi dan Pulau Jawa.
Menyandang status otonom sebagai kabupaten tersendiri, Wasior berkembang begitu rupa. Rumah indekos, kios, dan wajah-wajah pendatang non-Papua mulai bermunculan di bumi Wamesa ini. Terbukanya akses transportasi secara perlahan semakin membuka daerah yang terkenal akan pesona Taman Nasional Teluk Cenderawasih ini.
Pesawat perintis Manokwari-Wasior rutin terbang 3-4 kali sehari. Demikian pula kapal perintis dan kapal kayu (cepat)
Adam Arumserum (70), tetua masyarakat Wasior, mengatakan, dulu, saat dirinya masih kanak- kanak, Wasior awalnya hanya sebuah kampung dengan sedikit warga. Bahkan, saat dimekarkan bersama beberapa kabupaten
Ia mengatakan, sebagian besar daerah di Sanduay dan Rado, Distrik Wasior, yang luluh lantak saat banjir bandang 4 Oktober lalu, pada tahun 1990-an masih berupa hutan belantara. ”Rumah hanya sedikit, satu dua, jaraknya jauh-jauh, tetapi sekarang sudah penuh,” kata Adam, yang juga pemilik ulayat di
Sanduay merupakan daerah bisnis padat yang mulai berkembang. Di daerah itu terdapat Hotel Sanduay Permai, pertambangan galian C, pasar baru, terminal, usaha rumah indekos, ruko, dan permukiman padat. Adapun Rado masih sebagai kampung kecil yang menuju daerah transmigrasi di Subey.
Bupati Teluk Wondama Alberth H Torey mengakui, pendataan penduduk secara detail belum dilakukan. Pasalnya, banyak pendatang yang ikut keluarga atau merantau di Wasior tanpa melapor kepada kepala kampung.
Samsul Sembang (50), warga asal Makassar yang tinggal di Wasior Kampung, mengaku, Wasior sangat menjanjikan keuntungan. Orang Wasior, seperti masyarakat asli Papua pada umumnya, tidak menawar harga yang dipatok pedagang.
”Saya sudah merantau ke Jakarta, Kalimantan, dan Nabire (Papua), tetapi paling bagus untungnya di Wasior ini,” ucap pria yang sehari-hari berjualan ikan di pasar lama Wasior ini. Omzetnya per hari dapat mencapai Rp 500.000.
Karena itu, pascabanjir bandang pekan lalu, Samsul enggan untuk mengungsi. Ia memilih mengirim anak dan istrinya ke Nabire, sementara dirinya berada di Wasior selama 1-2 bulan ini untuk melihat perkembangan kota pascabencana.
Dengan kondisi Wasior yang 80 persen permukiman dan infrastruktur rusak berat diempas air bah bersama batang kayu dan bebatuan, terselip pesimistis di hati Samsul.
Apalagi, ia mendengar banyak pengungsi yang enggan kembali lagi ke Wasior karena trauma kehilangan sanak keluarga. ”Kalau nanti masyarakat ternyata banyak kembali ke Wasior, saya juga akan berjualan ikan lagi,” ucap ayah dari lima anak ini.
Adi (50), pedagang di lapak Pasar Lama, Wasior, memilih bersikap optimistis. Meski usahanya hancur diterjang banjir dan rugi sekitar Rp 75 juta, ia ingin bangkit dan tetap berdagang di Wasior.
Ia menggambarkan, selama dua tahun berjualan di Wasior, omzet rata-rata per bulan mencapai Rp 5 juta-Rp 6 juta. Bahkan, saat menjelang hari raya Natal, omzet naik drastis mencapai Rp 20 juta-Rp 25 juta per bulan. Karena itu, ia berharap masa mendekati hari raya Natal ini usahanya bangkit dan sedikit demi sedikit bisa menutup kerugian akibat bencana.
Melki Wenda (29), warga di Sanduay, bersama tiga rekannya merantau ke Wasior untuk berburu kayu gaharu yang didengarnya banyak terdapat di Teluk Wondama. Namun, baru dua bulan di Wasior, pria asal Pegunungan Tengah, Papua, ini kehilangan seorang rekannya yang tinggal seatap di rumah berdinding tripleks.
Seorang lagi temannya, Limpu Wenda (29), ditemukan tewas terbenam lumpur di bawah onggokan batang kayu di tepi hutan sagu. Melki berkisah, semula ia lama tinggal di Kaimana untuk berburu kayu gaharu. Ia kemudian beralih ke Wasior karena ia mendengar banyak kayu bisa berfungsi sebagai bahan pembuat minyak wangi itu.
Wasior dulu hanya dikenal berkat hadirnya perusahaan perkayuan PT Wapoga Mutiara Timber di Dusner, daerah di wilayah utara Wasior, atau sekitar 30 menit menggunakan perahu tempel dari Wasior. Daerah ini juga dikenal karena kehadiran PT Darma Mukti Persada (DMP) yang memegang hak pengelolaan hutan di Ambumi, juga di wilayah utara Wasior. Perlahan, Wasior mulai bangkit dan berusaha menyejajarkan diri dengan kabupaten induk.
Namun, pencapaian delapan tahun itu mendadak musnah disapu banjir. Wondama berubah total, kembali dari awal lagi.
Pusat pemerintahan yang telah dipindahkan ke Raisei (sekitar 20 kilometer dari Wasior) sejak setahun lalu menjadi modal untuk dilakukan penataan ruang wilayah. Pemprov Papua Barat dan Jakarta pun meminta Teluk Wondama untuk menggodok secara matang hal ini.
Relokasi atau pengosongan daerah Wasior menjadi salah satu alternatif yang sedang digodok. Ini mengingat banjir pernah terjadi tahun 1950-an, 1970-an, dan terakhir 2008. Hanya saja, dampak banjir sebelum ini tak sehebat kejadian 4 Oktober 2010. Banjir menewaskan 153 orang, 146 orang hilang, dan 2.000-an orang mengungsi.
Posisi Wasior di kaki Pegunungan Cagar Alam Wondiboi yang berlereng curam membuatnya tak dapat lepas dari daerah rawan banjir dan longsor seperti terjadi 4 Oktober 2010.