Banjir jakarta

Rp 20 M untuk Normalisasi Kali Sunter

Kompas.com - 15/10/2010, 21:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kawasan Cipinang Melayu, Makasar, saat ini menjadi salah satu daerah langganan banjir yang terdapat di wilayah Jakarta Timur. Banjir yang kerap melanda kawasan itu ditenggarai karena terjadinya penyempitan serta pendangkalan Kali Sunter yang melintasi Kecamatan Makasar.

Keberadaan ratusan bangunan di sepanjang bantaran kali membuat aliran air terhambat dan selalu meluap saat terjadinya hujan. Untuk mengatasi hal itu, Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta pada tahun 2011 berencana membebaskan lahan milik warga yang berada di bantaran Kali Sunter. Rencananya, Dinas PU akan mengajukan usulan anggaran ke DPRD DKI Jakarta sebesar Rp 20 miliar pada APBD 2011.

"Kita akan ajukan usulan anggaran pada APBD 2011 sebesar Rp 20 miliar untuk pembebasan lahan. Sedang untuk pembangunan fisiknya menjadi kewenangan Pemerintah Pusat," ujar Ery Basworo, Kepala Dinas PU DKI Jakarta, kepada beritajakarta.com, saat meninjau banjir di kawasan Cipinang Indah, Jakarta Timur, Jumat (15/10/2010).

Pada 2008, diungkapkan Ery, Pemerintah Pusat sebenarnya telah berniat membebaskan lahan di bantaran Kali Sunter. Namun, saat itu, sejumlah warga menolak sehingga pemerintah akhirnya mengurungkan pembebasan lahan tersebut.

Mengenai sosialisasi ke warga, sambungnya, akan dilakukan pihak P2T (Panitia Pengadaan Tanah) Kota Administrasi Jakarta Timur. Namun,  sosialisasi juga baru akan dilakukan setelah adanya kepastian anggaran untuk pembebasan lahan.

Sekretaris Kota Administrasi Jakarta Timur, Arifin Ibrahim mengatakan, belum dapat melakukan sosialisasi sebelum adanya surat perintah tugas (SPT) antara Dinas PU DKI dengan P2T Kota Administrasi Jakarta Timur. Saat ini pihaknya masih menunggu soal kepastian hukum. Jika semua payung hukum sudah jelas, maka program pembebasan lahan dapat dilakukan.

"Kalau ternyata warga Cipinang Melayu masih menolak juga untuk dilakukan pembebasan, maka perlu ada tangan besi untuk melakukannya. Tanpa adanya tangan besi, normalisasi Kali Sunter tidak akan berjalan," tegas Arifin.

Semakin warga menolak, lanjut Arifin, akan semakin kencang upaya normalisasi kali tersebut. Prinsipnya, program normalisasi ini adalah untuk kepentingan masyarakat banyak. Untuk itu, pihaknya akan menggunakan ketentuan yang berlaku untuk membebaskan lahan tersebut.

Jika ada warga yang menolak dapat dititipkan ke pengadilan negeri setempat atau konsinyasi. "Kita hidup diatur oleh pemerintah, makanya segala sesuatu juga harus mengikuti peraturan. Toh ini juga untuk kepentingan umum," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau