NU Menjunjung Tinggi Toleransi

Kompas.com - 16/10/2010, 12:54 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Misi perdamaian dan saling menghormati sesama pemeluk agama merupakan prinsip dasar organisasi Nahdlatul Ulama.

"Pendiri NU KH Hasyim Asyari, sejak awal mempunyai misi untuk menegakkan persatuan serta perdamaian. Rasa toleransi antar pemeluk agama yang beliau junjung, sehingga terhindar dari rasa permusuhan, kebencian dan menjauhkan dari konflik," ujar Ketua Umum PBNU KH Said Aqiel Siradj saat memberikan sambutan di acara Global Peace Leadership Conference di Grand Melia Hotel, Jakarta, Sabtu (16/10 2010).

Bahkan sembilan tahun sebelum Indonesia merdeka, KH Hasyim Asyari, lanjut KH Said Aqiel, telah menegakkan Darrus Salam, negara yang damai, bukan Darrus Islam atau membentuk negara Islam.

"Jadi NU sangat menjunjung tinggi toleransi dan kedamaian serta menjaga NKRI berdasarkan Pancasila, serta Bhinneka Tunggal Ika. Jadi Orang NU tidak pernah ragu untuk mendukung empat pilar tersebut," ujar Ketua PBNU yang lulusan Al-Azhar Kairo itu.

Menurut Said Aqiel, NU sangat mendukung toleransi dan perdamaian serta tidak menyukai konflik hingga radikalisme.

"Orang NU pasti Indonesia, Orang NU pasti tidak diragukan soal ke-Indonesiaannya," tegasnya.

Satu pesan yang disampaikan Ketua PBNU yang terpilih Pada bulan Maret  2010 dalam Munas NU di Makassar. Bahwa Indonesia tidak akan tampak kalau tidak ada Hindu, Buddha, Kristen, Islam dan Konghucu.

"Indonesia tidak akan tampak jika tidak ada suku jawa, sunda, bugis, dayak dan sebagainya. Semua saudara kita dan bagian dari kita. NU selalu menjaga perdamaian dan kedamaian dari dulu, sekarang hingga ke depan," katanya. (Tribunnews/Yoni)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau