Kuliner

Wagyu Australia di Kaki Lima

Kompas.com - 17/10/2010, 08:25 WIB

KOMPAS.com — Pernahkah Anda mendengar kata 'wagyu'? Kata wagyu sering dianggap sebagai jenis daging sapi khusus dengan kualitas marbling tertentu. Marbling adalah kadar lemak yang terselip di antara daging sapi dan membentuk pola seperti marmer. Marbling inilah yang membuat daging wagyu terasa gurih dan empuk.

Sebenarnya wagyu berarti sapi (gyu) Jepang (wa). Untuk mencapai kualitas daging seperti itu, hanya beberapa jenis sapi Jepang yang bisa dibudidayakan, yaitu jenis japanese black, japanese brown, japanese polled, dan japanese shorthorn.

Sapi-sapi ini dibudidayakan dalam lingkungan khusus dan diatur pola makannya. Mereka diberi makanan khusus yang berbeda dengan sapi jenis lainnya. Minumannya pun berbeda.

”Air minumnya biasanya spring water. Makanannya organik. Sapinya juga harus dipijit supaya sapi tidak stres,” kata Wynda, pemilik warung Steak Hotel Holycow di Radio Dalam.

Perlakuan khusus inilah yang menghasilkan daging sapi seperti yang kita kenal dengan wagyu ini. Lemak yang membentuk pola seperti marmer ini adalah lemak tak jenuh yang mengandung Omega-3 dan Omega-6. Semakin tinggi pola marbling-nya, semakin banyak kandungan lemak tak jenuhnya.

Saking terkenalnya wagyu, sekarang ini banyak peternakan di Amerika dan Australia yang ikut membiakkan wagyu. Nah, daging wagyu yang dipakai di warung-warung kaki lima ini adalah daging yang berasal dari Australia.

Soal harga bahan mentah dan kualitas daging yang digunakan, menurut Afit D Purwanto (30), koki yang juga salah satu pemilik warung, sebenarnya sama saja dengan wagyu di restoran besar. Untuk steaknya, Afit menggunakan wagyu dengan tingkat marbling 5-7.

Kenapa bisa murah? ”Karena tempat kami ini seadanya. Tidak berinterior mahal,” tutur Afit. Pengunjung yang datang ke Holycow tampaknya memang tidak keberatan dengan suasana warung yang seadanya. Untuk menutupi warung, Afit hanya menggunakan spanduk besar bertuliskan ”Hello Carnivores”.

Sementara warung lain yang menyediakan wagyu, MrSteak di Jalan Prof Dr Satrio, Kuningan, hanya berdinding tripleks yang dicat putih. Bagian depan warung MrSteak ini ditutup dengan tirai bambu yang diberi lubang agar asap bisa ”lari” ke jalan. Meski begitu, ruangan warung MrSteak ini berpendingin ruangan dan terpisah dari tempat pembakaran daging.

Karena kekurangan tempat, Holycow menggabungkan tempat pembakaran dagingnya dengan tempat makan. Afit memasang dua cerobong asap untuk menyedot asap hasil pembakaran. Namun, karena warungnya terbuka, asap hasil pembakaran tetap saja mengepul di antara pengunjung yang makan.

Pengunjung yang terlena menikmati steak wagyu tampaknya tidak keberatan dengan kepulan asap tadi. Buktinya, dalam waktu tiga jam sejak warung itu dibuka pukul 18.30, Holycow bisa menghabiskan 30 kilogram daging. (IND/IYA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau