Kehidupan

Lakon Hidup Pria "Single Parent"

Kompas.com - 17/10/2010, 09:27 WIB

Oleh Budi Suwarna dan Ilham Khoiri

Sejak istrinya meninggal 13 tahun lalu, Jeffrey Ong (54) harus membesarkan anaknya Defri Adipratama yang menyandang ”down syndrome” sendirian. Hidupnya seketika berubah. Dia harus berperan sebagai ayah sekaligus ibu.

Perjalanan hidup seperti itu juga dilakoni Aryono Huboyo Djati (49) dan Santo Aboe (53) selama bertahun-tahun meski dengan penyebab berbeda: bercerai. Apa pun penyebabnya, situasi yang mereka hadapi hampir sama. Sangat berat bagi laki-laki menjadi orangtua tunggal yang dituntut mencari nafkah sekaligus mengurus anak.

”Saya biasanya mengandalkan istri (untuk mengurus anak). Setelah dia meninggal karena kanker, saya kehilangan pasangan dan dukungan untuk membesarkan anak, apalagi anak saya baru berusia tujuh tahun dan down syndrome,” tutur Jeffrey, karyawan di Kedutaan Besar Kanada, Jakarta.

Meski begitu, dia bertekad membesarkan anaknya sendirian. Setiap hari, dibantu pembantu rumah tangga, Jeffrey mengurus anaknya Defri mulai mandi, makan, minum, hingga ke toilet. Dia juga harus memastikan setiap pagi Defri pergi ke sekolah luar biasa (SLB) dan sorenya ikut kursus gamelan, renang, atau mengaji.

Untuk meringankan tugasnya, Jeffrey mencari bantuan dari orang-orang yang dipercayainnya. Jika ada tugas ke luar kota, Jeffrey meminta ibunya datang untuk menemani Defri.

Dengan dukungan itulah, dia menjalankan perannya sebagai ayah sekaligus ibu. ”Saya merasa belum maksimal mengurus anak. Tetapi, itulah yang bisa saya lakukan,” kata Jeffrey yang ditinggal istrinya, Ade Rustianti, ketika dia berusia 41 tahun.

Kini Defri telah berusia 21 tahun dan menamatkan SLB tingkat SMA. Tubuhnya sehat dan kegiatannya banyak. Dia senang musik, ikut kelompok gamelan bernama Difabel Hita Mandiri, kadang ikut pentas, dan menyanyi untuk Kelompok The Stars. Namun, Jeffrey merasa jalan untuk mengurus Defri masih panjang. Dia harus melatih Defri agar tidak terlalu tergantung padanya.

Aryono, pengarang lagu ”Burung Camar”—lirik dibuat Iwan Abdurrahman—yang dipopulerkan Vina Panduwinata, juga tahu beratnya menjadi orangtua tunggal. Setelah bercerai dengan istrinya tahun 1998, Aryono harus mengurus anaknya Asyar Renaton Djati yang ketika itu baru berusia empat tahun.

”Saya mengurusi semua kebutuhannya, termasuk menyiapkan makan dan minum,” ujarnya.

Aryono beruntung karena ibunya ambil bagian mengurus Asyar. ”Jadi, kasih sayang ibu untuk Asyar diambil alih neneknya,” ujar Aryono yang juga berprofesi sebagai fotografer.

Hubungan Asyar dengan ibu kandungnya juga baik-baik saja. ”Saya tidak melarang dia bertemu ibunya,” kata Aryono.

Kini, Asyar berusia 16 tahun. Aryono pun tidak lagi sekadar memosisikan perannya sebagai ayah dan ibu, tetapi juga sebagai sahabat. ”Kami bisa ngobrol dan jalan berdua sebagai sesama laki-laki. Dia bisa cerita apa saja, termasuk soal pacarnya,” ujarnya.

Meski begitu, lanjut Aryono, saat ini adalah periode tersulit dalam mengurus anak. ”Saya lihat Asyar sedang mencari jati diri. Dia sekarang sering membantah. Disuruh mandi enggak mau. Dilarang mandi malah mandi ha-ha-ha. Dia juga merokok sekarang. Waduh pusing saya.”

Berbeda dengan Aryono dan Jeffrey, Santo menjadi orangtua tunggal sejak delapan tahun lalu ketika dua putrinya, Tantri dan Ara, telah berusia 21 tahun dan 16 tahun. Meski begitu, Santo sempat bingung juga sebab keduanya ternyata tetap butuh sosok ibu.

”Mereka masih senang bermanja-manja. Kalau ke laki-laki, mungkin anak (perempuan) agak sungkan gelendotan,” katanya.

Itu sebabnya Santo tidak melarang kedua anaknya sesekali bertemu ibu mereka yang telah menikah lagi. Semua bisa dilakoni berkat komunikasi berjalan dengan baik.

Sebagai orangtua tunggal, Santo berusaha memosisikan dirinya sebagai ayah, ibu, sekaligus sahabat. ”Saya selalu bercerita apa adanya. Kalau sedang bicara, kami seperti sahabat. Akhirnya mereka bercerita apa saja, termasuk soal pacarnya. Tidak ada yang disembunyikan.”

Garis nasib Bagaimana ketiga laki-laki itu bisa menjalani kehidupan mereka yang tidak mudah? Kuncinya, kata Jeffrey, adalah berbesar hati untuk menerima garis nasib dan kenyataan. ”Kita harus selalu berpikir positif. Banyak orang yang kondisinya lebih sulit dari kita,” kata Jeffrey.

Aryono berusaha menikmati kenyataan hidup di depan mata. ”Saya merasa menjadi orangtua tunggal toh asyik-asyik saja,” katanya.

Bagaimana dengan Santo? Dia bahagia karena anak-anaknya memilih tinggal bersamanya. ”Saya tidak pernah bertanya mengapa. Itu saya anggap penghargaan buat saya,” ujarnya.

Kini kedua anaknya, Tantri dan Ara, berusia 29 tahun dan 24 tahun. Mereka telah menikah dan sekarang sedang hamil. Keduanya memilih tetap tinggal bersama ayahnya. ”Jadi, sebentar lagi saya akan mengurus cucu,” katanya gembira.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau