JAKARTA, KOMPAS.com - Kelambatan diagnosis dan penanganan penderita kelainan mata seperti katarak, retinoblastoma, dan retinopati prematuritas menyebabkan tingginya angka kebutaan dan kematian anak di Indonesia. Padahal sebetulnya sebagian besar penyebab kebutaan dan gangguan penglihatan berat dapat dicegah bila ditangani dengan cepat dan tepat.
Hasil penelitian ini dipaparkan Rita Sita Sitorus dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Sabtu (16/10/2010), di Jakarta. "Katarak kongenital, katarak infantil, dan kelainan kornea terkait infeksi campak atau defisiensi vitamin A adalah penyebab utama kebutaan yang bisa diterapi," ujarnya.
Dalam pidato berjudul "Eliminasi Kebutaan Anak di Indonesia Sejalan dengan Millenium Development Goals (MDGs) dan Vision 2020, Konsep dan Strategi", Rita menyesalkan kenyataan kebutaan anak belum mendapat perhatian sebesar penyakit anak lain seperti demam berdarah, flu burung, infeksi saluran napas, dan saluran cerna.
Padahal jumlah kasus kebutaan anak di Indonesia diperkirakan mencapai 80.000 anak. Jika menggunakan data under-5 mortality rates (U5MRs) diperkirakan ada 56.000 anak. Bahkan kelainan mata seperti retinoblastoma bisa berakhir dengan kematian karena termasuk penyakit paling ganas kedua setelah leukimia.
Edukasi
Untuk mencegah kebutaan anak Rita menilai pemeriksaan dini dan penanganan yang cepat pada masa periode sensitif perkembangan visual menjadi kunci penting. Sayangnya, jumlah dokter spesialis mata anak di Indonesia hanya sekitar 20 orang. "Edukasi kesadaran tenaga kesehatan dan masyarakat juga penting untuk deteksi dini penting agar biaya pengobatannya lebih murah," ujarnya.
Rektor UI Gumilar Rusliwa Somantri mengingatkan cara pandang kedokteran telah bergeser dari kuratif menjadi preventif agar biaya pengobatan lebih murah. Namun masalahnya banyak orang tidak peduli pada hal-hal yang terkait pencegahan seperti membangun SDM yang lebih baik.
Bersama Rita, UI juga mengukuhkan Prof drg Iwan Tofani, SpBM, PhD sebagai Guru Besar Tetap Ilmu Bedah Mulut Fakultas Kedokteran Gigi dengan pidato pengukuhan berjudul "Peran Ilmu Bedah Mulut dan Maksilofasial dalam Kedokteran Gigi Masa Depan di Indonesia".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang