Evaluasi pemerintahan

Pencapaian Kabinet Masih Minim

Kompas.com - 18/10/2010, 03:12 WIB

Jakarta, Kompas - Pencapaian satu tahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dalam Kabinet Indonesia Bersatu II dinilai masih minim. Karena itu, demi perbaikan kinerja pemerintah, Presiden sebaiknya merombak kabinetnya.

Hal itu dikatakan anggota Komisi III DPR, Bambang Soesatyo, di Jakarta, Minggu (17/10). Sebagai contoh, di bidang ekonomi, pemerintah belum memperlihatkan pemulihan produktivitas potensi ekonomi dalam negeri.

Produktivitas masyarakat, lanjut Bambang, terhambat tingginya biaya produksi. Akibatnya, pasar dalam negeri dijejali produk impor. Di bidang hukum, dalam setahun terakhir, pemerintahan nyaris meraih nilai buruk. Banyak oknum dan sejumlah institusi negara justru diduga menjadi aktor utama dalam praktik mafia hukum. Presiden Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono dinilai tidak maksimal mencegah upaya pelemahan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi.

Bambang menambahkan, pengelolaan keamanan dan ketertiban umum juga masih jauh dari harapan dan kurang efektif. Konflik antarwarga, antarmassa, dan berbagai kekerasan sering muncul karena lemahnya peran aparat penegak hukum.

Aburizal tak mau menilai

Sebaliknya,   Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie enggan menilai kinerja pemerintahan Yudhoyono. Pemerintahan baru bisa dinilai setelah lima tahun.

”Tidak mungkin satu pemerintahan bisa menyelesaikan pekerjaan dalam setahun. Apalagi menteri, saya mengetahui bagaimana susahnya pekerjaan dalam pemerintahan. Karena itu, kita nilai nantilah,” katanya, Sabtu.

Ia hanya mengungkapkan masih banyak hal yang harus dibereskan pemerintah. Terkait dengan hal itu, Partai Golkar mendukung pemerintah untuk membereskan hal itu. Untuk itu, keadaan politik harus dibuat stabil agar pemerintah dapat menjalankan programnya.

Salah satu hal yang harus diselesaikan adalah menjadikan hukum sebagai panglima. Jalannya pemerintahan harus didasarkan pada hukum sehingga tidak ada satu undang-undang atau peraturan presiden yang tak bisa dijalankan.

Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra mengungkapkan perlunya perombakan kabinet (reshuffle). Pasalnya, banyak menteri yang kinerjanya tak memenuhi harapan.

Ia memisalkan, pretensi Presiden agar Indonesia leading dalam isu pemanasan global, tetapi menterinya tak menjalankan hal yang relevan. Kementerian Luar Negeri juga tak mengambil langkah menuju peran Indonesia di kancah internasional yang kian kuat. (fer/ana)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau