WASHINGTON, JUMAT -
Sementara itu, Departemen Keuangan mengeluarkan pengumuman, Jumat (15/10), yang intinya memuji tindakan China yang membiarkan kurs yuan terapresiasi sebesar 3 persen sejak 19 Juni. Pemerintah AS juga mengumumkan investigasi terhadap keluhan serikat pekerja tentang praktik perdagangan pebisnis China yang dianggap mendapatkan keuntungan dari pasar energi bersih.
Kedua hal itu memperlihatkan bahwa AS tengah melakukan strategi diplomasi yang sangat berhati-hati. Sikap tersebut memberikan China lebih banyak waktu untuk memperlihatkan bahwa Beijing serius menanggapi kritik-kritik bahwa mereka telah menekan kursnya tetap rendah.
Sikap itu juga memungkinkan Presiden Obama memperlihatkan kepada industri AS, serikat pekerja, dan Kongres bahwa dia telah bersikap keras terhadap China sebelum pemilihan Kongres pada 2 November. Sebelummya, Obama seolah berada pada situasi dilematis: memerhatikan kepentingan dalam negeri (mempertahankan perolehan suara dalam pemilu dengan menuduh China manipulasi) atau menjaga hubungan baik dengan China.
Kurs yuan naik hampir 1 persen sejak awal September, sebuah langkah yang sangat dihargai oleh Departemen Keuangan AS.
”Jika langkah ini terus dilakukan secara konsisten dalam jangka waktu yang panjang, tentu akan membantu mengoreksi apa yang disebut Dana Moneter Internasional (IMF) sebagai kurs mata uang yang berada di bawah nilai pasarnya,” demikian pernyataan Departemen Keuangan.
Industri di AS yakin bahwa kurs yuan sebenarnya 40 persen berada di bawah nilai wajar. Hal itu membuat barang ekspor AS menjadi lebih mahal serta sebaliknya, barang-barang China lebih murah dan eksportir AS kehilangan daya kompetisinya di pasar-pasar AS.
Frank Vargo, vice president untuk urusan internasional pada Asosiasi Manufaktur Nasional mengatakan, asosiasinya akan melihat apakah ada apresiasi yuan lebih cepat dari 1 persen per bulan.