Kelapa sawit

Boikot Pembeli dari Eropa Belum Berakhir

Kompas.com - 18/10/2010, 08:41 WIB

MEDAN, KOMPAS.com - Boikot Eropa terhadap minyak kelapa sawit dari Indonesia belum akan berakhir. Ini karena pertemuan pemangku kepentingan kelapa sawit nasional dengan perwakilan negara-negara Uni Eropa belum membawa hasil positif.

Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Asmar Arsyad yang ikut dalam pertemuan itu, berlangsung pekan lalu di Pekanbaru, Riau, pemboikotan atas minyak kelapa sawit mentah (CPO) oleh pembeli dari Eropa, seperti Unilever dan Nestle, masih terjadi. Boikot tersebut terkait isu lingkungan yang dilancarkan lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional.

”Jika Eropa menganggap kelapa sawit Indonesia sebagai green monster, maka upaya kampanye negatif terhadap produk CPO Indonesia adalah bagian dari green colonialism,” kata Asmar di Medan, Minggu (17/10/2010).

Hadir dalam pertemuan di Riau itu antara lain Duta Besar Uni Eropa untuk RI Julian Wilson serta duta besar dan perwakilan dari Finlandia, Ceko, Inggris, Jerman, Belanda, Spanyol, Italia, Belgia, dan Luksemburg. Perwakilan negara Eropa ini juga berkunjung ke petani plasma sawit PTPN V di Kampar.

Menurut Asmar, pemerintah negara-negara Eropa seolah lepas tangan terhadap kampanye negatif yang dilancarkan LSM internasional atas produk CPO Indonesia.

”Mereka mengaku tak terlibat dengan kampanye negatif LSM internasional. Mereka balik menuduh, kesulitan kami mengembangkan perkebunan sawit karena Pemerintah Indonesia yang membatasi sendiri. Kan yang ingin agar emisi karbon berkurang 26-41 persen pada 2020 Presiden Indonesia, bukan negara-negara Eropa. Yang ingin moratorium juga Pemerintah Indonesia,” tutur Asmar.

Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumatera Utara Timbas P Ginting menjelaskan, pengusaha kelapa sawit Indonesia mengungkapkan ketidakadilan bagi negara berkembang yang harus menjaga hutan, sementara kerusakan hutan di negara-negara maju telah terjadi sebelumnya.

”Kebun sawit di Indonesia dan Malaysia hanya 15 juta hektar, sementara berapa banyak hutan di Eropa yang hilang karena mereka menanam bunga matahari. Ini kan persoalan persaingan minyak nabati,” ujar Timbas.

Gapki Sumatera Selatan mengaku belum mampu merealisasikan rencana investasi industri hilir kelapa sawit. Alasannya, mereka terkendala kebijakan pemerintah dan perbankan yang belum berpihak kepada pengusaha.

Padahal, menurut anggota Gapki Sumsel, Hari Hartanto, peluang untuk menggarap industri hilir terbuka lebar karena Sumsel surplus produksi CPO. (BIL/ONI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau