Sidang blowfish

Saksi Blowfish Membingungkan Semua Pihak

Kompas.com - 18/10/2010, 15:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kesaksian Ihwan, mantan petugas keamanan di kelab malam Blowfish, di Gedung City Plaza, Jakarta Selatan, membingungkan semua pihak baik majelis hakim, jaksa penuntut umum (JPU), maupun pengacara terdakwa. Saat itu, Ihwan bersaksi di sidang terdakwa Konor Lolo dan Bernadus Malelak Al Nadus di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (18/10/2010).

Saat bersaksi, Ihwan mengaku tidak melihat keributan pada Minggu (4/4/2010). Dia juga mengaku tidak tahu siapa dua kelompok yang bentrok. Dia juga mengaku tidak pernah melihat dua terdakwa serta dua terdakwa lain, yakni David Too Too dan Rando Lili, sebelum ataupun saat kejadian.

"Saya tidak lihat keributan," kata Ihwan.

Keterangan itu bertolak belakang dengan keterangan dalam berita acara pemeriksaan (BAP). Dalam BAP, Ihwan menjelaskan secara detail kronologi bentrokan. Selain itu, dia juga mengaku melihat empat terdakwa bersama sekitar 11 orang lain datang ke kelab. Mereka datang membawa kayu, samurai, dan besi pembatas.

Padahal, sebelum bersaksi, hakim sempat menanyakan apakah dia membaca BAP terlebih dulu sebelum menandatangani. Ihwan menjawab membaca terlebih dulu. Kepada hakim, dia juga mengatakan bahwa isi dalam BAP benar.

Mendengar keterangan yang berbeda antara di persidangan dan di BAP, majelis hakim pun kesal. "Saksi tadi bilang baca dulu sebelum tanda tangan. Saksi juga bilang BAP benar," tanya Singit Elier, ketua majelis hakim, dengan nada tinggi.

"Iya Pak, tapi itu bukan BAP saya. Saya tidak kenal dan tidak lihat dua orang ini (terdakwa)," jawab Ihwan.

"Tapi, di BAP saksi jelaskan terperinci. Ini tidak masuk akal. Kenapa saudara bantah sendiri? Kenapa saksi bohong?" tanya hakim lagi. "Mungkin penyidik yang tambah-tambahin," jawab dia disambut tawa pengunjung.

Ihwan mengaku tidak ditekan penyidik Polda Metro Jaya ataupun diarahkan memberikan dalam jawaban selama diperiksa. "Saksi lalu kenapa mau tanda tangan?" tanya Singit.

"Sudah sesuai BAP," jawab saksi.

"Saudara semakin lama ditanya semakin membuat bingung orang sejagat," ucap Singit kesal.

"Saudara tidak perlu takut orang-orang hitam di Blowfish itu. Sekuriti kok mencla-mencle," sindir Singit.

"Di sidang saudara mengaku tidak lihat, tidak kenal semua terdakwa. Tapi waktu ditanya BAP benar atau tidak, saudara jawab benar. Gimana ini?" tanya JPU.

Akibat kesaksian yang membingungkan itu, pengacara terdakwa lalu meminta agar saksi dikonfrontasi dengan penyidik pada sidang berikutnya. "Siap penuntut umum (hadirkan penyidik)?" tanya hakim.

"Siap," jawab JPU.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau