Wisata

Nyamannya Berbelanja di Victoria Market

Kompas.com - 18/10/2010, 16:25 WIB

MELBOURNE, KOMPAS.com - Jika Anda tengah berkunjung ke Australia atau tepatnya Melbourne, tak ada salahnya jika menyempatkan diri mampir ke Victoria Market. Victoria Market merupakan pasar tradisional yang cukup popular di kalangan warga Australia.

Mengenai pasar tradisional di Melbourne, yang terletak di negara bagian Victoria itu, Anda jangan membayangkan betapa kumuh, becek, semrawut, sebagaimana yang mungkin kerap Anda jumpai di kota-kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta.

Ketika memasuki kawasan salah satu pasar tradisional tertua di Melbourne ini, bisa jadi Anda tengah mengira berada di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Secara fisik, Victoria Market terlihat bersih. Kios-kios berjejer rapi menurut kategori. Ada bagian buah dan sayuran, daging, mainan, baju, bunga, hingga souvenir dan perkakas perlengkapan rumah tangga.

Ketika Kompas.com berkunjung, hujan baru saja usai mengguyur sebagian pelosok Melbourne, namun lantai pasar tetap tergolong kering. Bau akibat daging yang kerap terendus ketika berada di pasar tradisional di Jakarta, tak ada.

Pedagang di Victoria Market terbagi dalam beberapa kategori. Ada yang memiliki lapak berupa meja terbuat dari beton, semi kaki lima (menggunakan meja kayu), hingga memiliki kios sendiri. Hampir seluruh pedagang memasang harga di depan barang-barang dagangannya.

Khusus bagian buah, pantauan Kompas.com, ada bagian swalayan (self service). Artinya, pembeli dipersilakan mengambil buah-buahan yang hendak dibeli dan memasukkannya ke kantong plastik. Selanjutnya, pembeli dengan tertib mengantre di jalur antrean menunggu pemilik kios yang akan menimbang dan menghitung harga.

Pasar ini juga menyediakan troli dan kursi-kursi panjang yang diperuntukkan bagi pengunjung yang kelelahan. Tak jarang dijumpai ada pengunjung yang tengah membaca koran atau buku bacaan sambil melepas lelah setelah berbelanja. Ada pula yang mendengarkan musik dari iPad yang dibawanya. Saking nyamannya berbelanja di Victoria Market, beberapa pengunjung bahkan turut membawa balitanya dengan kereta bayi. Ada pula yang berbelanja sambil membawa hewan peliharaannya.

Dari sisi busana, para pengunjung Victoria Market juga terlihat nyaman dengan pakaian terbuka yang sebenarnya lebih cocok dikenakan ketika berada di mal. Soal kesadaran lingkungan, pengelola pasar ini turut mengampanyekan kebijakan pemerintah daerah setempat yang mengimbau warga agar membawa kantong plastik sendiri. Poster-poster imbauan agar menggunakan kantong plastik bekas ditempel di beberapa sudut pasar.

Pasar ini juga menerapkan sistem secure parking gratis pada hari Senin-Jumat. Sementara itu, pada Sabtu dan Minggu, pengunjung bebas biaya parkir jika berbelanja mulai dari pukul 06.00-10.00.

Lantas, bagaimana dengan toiletnya? Silakan buang jauh-jauh bayangan toilet pasar yang terkadang kotor dan menimbulkan bau tak sedap. Toilet Victoria Market ini sangat bersih. Di bilik-bilik toilet, ada tisu gulungan besar yang siap digunakan. Ada pula wastafel beserta sabun dan pengering tangan, urinoir yang bersih, kaca, dan lainnya.

Ketika berkeliling Victoria Market, Kompas.com malah menjumpai penjaga toko dan pembeli asal Indonesia. Ningsih, seorang penjaga toko kaos dan sovenir khas Australia, adalah salah satunya. Ningsih, wanita asal Tegal, Jawa tengah ini mengaku baru bekerja di Australia selama enam bulan. Sayang, karena waktu yang terbatas, Kompas.com tak bisa berbincang-bincang lama. Setelah berbicara sebentar tentang keadaan tanah air, kami pun segera berpisah.

Ada pula Sutardjo, penjaga toko asal Muntilan, Jawa Tengah. Sutardjo mengaku baru satu tahun di Australia. Sama seperti Ningsih, Sutardjo juga menjaga toko souvenir.

Sementara itu, Sari seorang pengunjung asal Indonesia, tepatnya dari Bandung, Jawa Barat, mengaku senang berbelanja di pasar tersebut. Menurut pengakuannya, perbedaan harga antara pasar swalayan dan Victoria Market cukup signifikan. Untuk buah dan sayuran, lanjutnya, perbedaan harga mulai dari satu dollar Australia.

Bahkan, Sari mengaku memiliki tips agar bisa mendapatkan harga yang lebih murah lagi. "Tunggu sampai sore hari. Barang-barang keperluan sehari-hari seperti sayur dan daging yang belum terjual hari itu, biasanya didiskon. Harganya menjadi semakin murah," ujarnya.

Kompas.com yang tak melewatkan kesempatan berbelanja, namun bukan membeli sayur atau daging melainkan souvenir khas Australia dan mendapatkan potongan harga. (Hindra Liu)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau