KOMPAS.com — Pada masa pemerintahan Perdana Menteri Julia Gillard, Australia berhadapan dengan problem imigrasi. Setidaknya, makin banyak pencari suaka datang ke Negeri Kanguru itu. Alhasil, penampungan bagi pencari suaka itu kian sesak. “Dua penampungan itu masing-masing bisa menampung 2.000 orang,” kata PM Gillard sebagaimana warta The Age pada Senin (18/10/2010).
Selain itu, Pemerintah Australia juga mengumumkan bahwa anak-anak pencari suaka dan keluarganya akan dipindahkan dari pusat penampungan ke sistem penampungan berbasis komunitas.
Keputusan ini dibuat karena, menurut Perdana Menteri Julia Gillard, Australia tidak pernah menempatkan anak-anak di balik kawat berduri.
Masalah pencari suaka dan imigrasi menjadi persoalan hangat di Australia dan menjadi sorotan dalam kampanye pemilihan umum yang baru saja berlalu.
Selama ini, kebijakan Australia yang menempatkan para imigran gelap ini di pusat-pusat penampungan sambil menunggu surat-surat mereka diproses mendapat kritik dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Anak
PM Gillard mengatakan, jumlah para pencari suaka berkeluarga dan anak-anak cukup signifikan. Mereka akan segera dipindahkan ke kawasan penampungan berbasis komunitas sebagai bagian dari pendekatan yang lebih manusiawi terhadap masalah ini.
"Pemindahan ini sangat penting bagi anak-anak sebab terkurung di pusat penampungan memberikan dampak negatif terhadap perkembangan fisik dan kesehatan mental mereka," kata Gillard.
"Saya kira bukanlah cara Australia menempatkan anak-anak di belakang kawat berduri," tambah Gillard.
Sementara itu, Menteri Imigrasi Australia Chris Bowen mengatakan, di satu sisi, Australia harus mempertahankan salah satu kebijakan suaka paling keras di dunia. Namun, di sisi lain, Australia juga harus memperbaiki perlakuan terhadap para pencari suaka itu. "Anak-anak akan harus bersekolah dan menjalani kehidupan secara normal," kata Bowen.
Pemerintah Australia saat ini tengah berunding dengan Timor Leste dan Indonesia untuk membangun pusat pemrosesan pencari suaka regional.
Pemerintah konservatif yang lalu pernah menelurkan kebijakan yang disebut Solusi Pasifik, yaitu menempatkan para pencari suaka di sebuah pusat penampungan di Nauru selama status pengungsi mereka diproses.
Menteri Bowen mengatakan, satu-satunya penyaring yang paling efektif adalah memperketat proses pemeriksaan dan pemberian status pengungsi kepada para pencari suaka.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang