Pendapatan Paramount Serpong 2010 Naik Dua Kali Lipat

Kompas.com - 19/10/2010, 20:09 WIB

SERPONG, KOMPAS.com — Tahun 2010 merupakan tahun mengesankan bagi pengembang Paramount dan sejumlah pengembang lainnya di kawasan Serpong.

"Sales performance Paramount Serpong tahun ini naik 100 persen. Pendapatan kami mencapai lebih dari Rp 900 miliar, naik hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2009. Ini sungguh luar biasa," urai Presiden Direktur Paramount Serpong Tanto Kurniawan, Selasa (19/10/2010).

Mengapa Gading Serpong (Paramount Serpong dan Summarecon Serpong) serta BSD mencatat sukses spektakuler tahun 2010? Menurut Tanto, bank tanah milik tiga pengembang ini relatif masih luas, sementara bank tanah Lippo Village dan Alam Sutera makin menipis. "Pembangunan infrastruktur tak pernah berhenti di kawasan Serpong," katanya.

Gading Serpong-BSD menyatu

Tanto menambahkan, paling lambat Maret 2011, kawasan BSD dan Gading Serpong sudah saling terhubung. "Masing-masing pengembang membangun jalan tembus. BSD membangun jalan tembus di Foresta, sedangkan Paramount Serpong di Ilago. Jika sudah menyatu, yakinlah, kawasan Serpong makin menjadi magnet. Dari Hotel Aston Paramount Serpong ke Teras Kota dan Hotel Santika di BSD hanya butuh waktu tak lebih dari 15 menit," ungkapnya.

Dalam waktu dekat, Paramount Serpong meluncurkan perumahan baru di kawasan Ilago seluas 250 hektar. Di kawasan Ilago pula, Grup Kompas Gramedia membeli tanah seluas 8 hektar untuk dibangun menjadi asrama mahasiswa 15 lantai berkapasitas 6.000 orang, serviced apartment, pusat pameran sekaligus auditorium untuk berbagai acara seminar, serta kampus mahasiswa S2," paparnya.

"Pak Jakob Oetama menargetkan, Universitas Multimedia Nusantara yang dibangun di Gading Serpong memiliki 25.000 mahasiswa dalam lima tahun mendatang. Ini dua kali lipat dibandingkan Universitas Pelita Harapan di Lippo Village," ungkap Tanto.

Tanto menambahkan, kawasan Serpong saat ini merupakan kawasan properti yang paling diminati. Selain dekat dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, kawasan ini dapat dijangkau, baik dari Tol JORR, Tol Kebon Jeruk, maupun Tol Merak.

"Tak heran jika pangsa pasar Gading Serpong lebih banyak orang Sumatera yang mencari rumah dan hunian untuk anak-anak mereka saat kuliah di UMN. Waktu tempuh ke Merak lewat jalan tol hanya 40 menit, lebih cepat daripada waktu ke Semanggi," ujarnya.

Tanto Kurniawan yang sebelumnya lama menjadi tangan kanan master properti Ciputra di Grup Jaya ini menambahkan, Paramount Serpong yang dipimpinnya akan membangun apartemen dengan harga relatif terjangkau dan pangsa pasar keluarga muda. Harga tipe studio 28 meter persegi sekitar Rp 330 juta, lebih murah setengahnya dibandingkan harga rumah dengan dua kamar di kawasan yang sama.

Bulan Juli 2011, Paramount mulai mengoperasikan gedung perkantoran 8 lantai Paramount Plaza. Gedung ini akan digunakan sendiri oleh karyawan Paramount yang saat ini berjumlah 350 orang. Di gedung ini tersedia auditorium berkapasitas 500 orang yang disewakan untuk berbagai acara. Gedung ini ramah lingkungan dengan desain dinding kaca. "Ini akan menjadi ikon baru Paramount Serpong," paparnya.

Setelah itu, tahun 2011 hingga dua tahun berikutnya, Paramount akan menyelesaikan Central Walk, kawasan alfreco dining dengan tempat makan di alam terbuka yang dilengkapi dengan kawasan untuk pejalan kaki, seperti Orchard Road di Singapura. (Robert Adhi Ksp)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau