Opini

Satu Tahun Tragedi Pencitraan

Kompas.com - 20/10/2010, 08:58 WIB

Oleh Effendi Gazali

KOMPAS.com — Setiap kali bertemu Tama Langkun, saya selalu bertanya-tanya, ”Apa yang ada di dalam hati Tama, dan apa pula yang ada di dalam hati Pak Beye (Susilo Bambang Yudhoyono)?”

Aktivis Indonesia Corruption Watch ini diserang orang tak dikenal (8 Juli dini hari) di tengah perjalanan pulang. Tama terluka serius kena bacokan dan dilarikan ke rumah sakit. Melalui Staf Khusus Presiden Bidang Hukum Denny Indrayana, Pak Beye mengirimkan surat dukungan kepada Tama untuk mendapatkan keadilan atas kasusnya.

Tak tanggung-tanggung, Pak Beye bahkan kemudian mengunjungi Tama di rumah sakit. Ia pun memberikan keterangan pers setelah pertemuan yang mengharukan dengan Tama. Berita ini masih tercatat segar pada situs resmi presiden tertanggal 10 Juli.

Ahad, 17 Oktober, saya bertemu Tama yang balik ”mengunjungi” Pak Beye di depan istananya. Kami ikut memberikan dukungan kepada teman-teman Kontras dan korban pelanggaran HAM yang membuat ”Aksi Pasar Lupa”.

Demikian banyak yang dilupakan Pemerintah. Peristiwa 27 Juli, tragedi Trisakti, Semanggi (untuk menyebut beberapa di antaranya), sampai kasus Tama, lalu penyerangan terhadap umat beragama lain, dan sebagainya. Keluarga korban menampilkan menu dan transaksi pasar politik serta bisnis seperti apa yang melatarbelakangi kelupaan itu.

Di sisi lain, tokoh politik pasti banyak yang lupa bahwa sampai Kamis (14/10/2010), Sumarsih (ibunda Wawan, korban peristiwa Semanggi) bersama rekan-rekan sudah 180 kali berdemo di depan Istana serta mengirim 150 surat kepada Pak Beye. Sama seperti Tama, Bu Sumarsih pun telah bertemu Pak Beye (bukan sebagai jawaban terhadap demo mereka, tetapi karena diajak oleh KontraS saat diterima Presiden).

Pasti banyak pembaca yang bertanya, apa yang ada di dalam hati Pak Beye ketika menjanjikan dukungan kepada Sumarsih dan Tama? Jika peristiwa itu hanya dimaksudkan berhenti pada seremonial dan liputan media, pencitraan akan efektif menjadi senjata makan tuan.

Substansi berbalik

Supaya pencitraan tidak ”berbalik menyerang tuannya”, substansi pencitraan biasanya dibatasi dan diluncurkan berhati-hati. Atau, jika ingin sesuatu yang panjang, dibutuhkan keterlibatan total seperti Presiden Sebastian Pinera pada kasus kecelakaan tambang San Jose, Cile.

Contoh lain soal substansi yang juga banyak dibahas di halaman Opini ini menyangkut pembatalan kunjungannya ke Belanda. Pak Beye menyatakan, yang tidak bisa ia terima adalah ketika Presiden RI berkunjung ke Den Haag atas undangan Ratu dan juga Perdana Menteri Belanda, digelar sebuah pengadilan yang antara lain untuk memutus tuntutan ditangkapnya Presiden RI. Bagi Indonesia, bagi Presiden, kalau sampai digelar pengadilan saat ia berkunjung ke sana, itu menyangkut harga diri dan kehormatan kita sebagai bangsa (kutipan situs presiden, 5/10/2010).

Beberapa teman pemerhati komunikasi politik di Belanda mengirim analisis bahwa pesan seperti itu berbahaya bagi Presiden sendiri. Timbul kesan, Pemerintah Indonesia selama ini memang biasa mengatur-atur kapan sebuah sidang pengadilan akan digelar. Dan dengan itu, mereka tersirat mengharapkan Pemerintah Belanda melakukan hal yang sama. Kita tahu bahwa sesuai dengan prinsipnya pengadilan di sana memegang teguh independensi.

Barangkali pembaca akan bertanya lagi, apakah tidak disadari logika berbahaya seperti itu? Atau, sebegitu besarkah kekeliruan intelijen membaca peta pengaruh Republik Maluku Selatan (RMS) yang sesungguhnya mengecil di Belanda?

Hening cipta Wasior

Batal ke Belanda, Pak Beye ikut menonton pertandingan PSSI melawan Uruguay di Stadion Senayan (8/10/2010). Padahal, 4 Oktober pagi terjadi banjir bandang di Wasior, Papua Barat. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton bergegas mengirimkan surat ikut berdukacita kepada Presiden pada 6 Oktober. Sampai saat itu, Pak Beye belum memberikan pernyataan langsung terkait bencana Wasior.

Tentu Menlu Hillary Clinton memiliki cara tersendiri menyatakan empati. Presiden Cile Pinera punya sikap khas pula menghadapi bencana rakyatnya. Untuk Pak Beye, saya berandai-andai jika di antara penasihatnya ada yang berpikir dengan sudut pandang para korban. Ini sekadar perbandingan mengantisipasi sekiranya terjadi persoalan yang lebih kurang serupa.

Saya bayangkan, malam itu saat turun ke lapangan hijau seusai menyalami pemain PSSI dan Uruguay, Presiden spontan meminta pengeras suara kepada panitia. Lalu, barangkali Pak Beye mau menyatakan, ”Saya datang untuk memberikan dukungan kepada PSSI. Namun, sebelum pertandingan dimulai, mari kita semua yang ada di stadion ini maupun di seluruh Indonesia mengheningkan cipta dan berdoa untuk saudara-saudara kita yang dilanda bencana di Wasior.”

Setelah tiga puluh detik, Pak Beye bisa menambahkan, ”Saya sedang mempersiapkan keberangkatan ke Wasior. Tetapi, sementara itu, untuk saudara-saudari kita di sana, terimalah salam dan doa dari kami semua yang ada di lapangan ini maupun di seluruh Indonesia.”

Rasanya kita semua berhak mengharapkan penasihat Pak Beye akan mendiskusikan hal tersebut kepada Presiden. Memakai pita hitam di lengan dan hening cipta sudah sangat lazim serta praktik standar di lapangan hijau, bahkan terkadang hanya untuk mengenang bencana relatif kecil atau bintang sepak bola yang meninggal!

Ini hanya penggalan akhir kisah pencitraan satu tahun. Di bagian terdahulu ada kisah tentang Anggito Abimanyu. Ia sudah diumumkan menjadi wakil menteri keuangan oleh pemerintah yang ternyata tidak tahu persis kecukupan administratif dirinya. Ketika enam bulan kemudian ada pengangkatan di posisi tersebut, dia pun lagi-lagi terlewatkan.

Semoga ironi atau tragedi pencitraan tidak terus berlanjut ke tahun kedua. Salah-salah, rakyat makin rindu pada sosok semacam SBP: Sebastian bin Pinera, yang pencitraannya dekat dan tulus kepada rakyat.

*Effendi Gazali Koordinator Program Master Komunikasi Politik Universitas Indonesia

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau