Setahun sby-boediono

Budaya Korup Sekarang Lebih Buruk

Kompas.com - 20/10/2010, 15:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Ketua DPD RI La Ode Ida menyatakan bahwa dalam evaluasi kinerja pemerintahan SBY dan Boediono selama satu tahun ini, bidang pemberantasan korupsi justru lebih parah ketimbang rezim Soeharto. Oleh karena itu, SBY-Boediono dinilai harus memasukkan unsur profesional di dalam kabinetnya ketimbang dari unsur parpol.

"Soeharto kita benci karena diktator dan korupsinya, tapi sekarang di era SBY kita sedang membiarkan korupsi dalam skala besar di berbagai belahan Indonesia," ujar La Ode dalam dialog Evaluasi Setahun Kabinet dan Realitas, Rabu (20/10/2010) di Gedung MPR/DPR, Jakarta.

Ia mengungkapkan, apabila Soeharto tidak diberikan gelar pahlawan karena pertimbangan praktik korupsi di eranya, maka SBY pun juga nantinya tidak bisa mendapat gelar pahlawan nasional. "Pada saat Soeharto, hanya segelintir orang saja yang lakukan korupsi. Kalau sekarang, sampai ke daerah-daerah juga korupsi," ujar La Ode.

Ia mengungkapkan bahwa dalam evaluasi kinerja pemerintahan selama satu tahun ini, SBY seharusnya berani memasukkan unsur profesional menggantikan unsur parpol di dalam kabinet. "Arahkan itu kepada profesional sehingga empat tahun ke depan dipimpin orang profesional bukan lagi orang parpol untuk mengakomodasi kepentingan politik parpol gabungan koalisi," ujarnya.

Menurut La Ode, SBY merupakan Presiden yang terkuat dibanding presiden-presiden sebelumnya. Oleh karena itu, SBY seharusnya berani bersikap menarik dari kepentingan politik dan mulai memasukkan unsur profesional di dalam kabinetnya. "Untuk evaluasi besok, tidak usahlah Presiden ramai-ramai bawa orang. Cukup panggil beberapa ahli dan bicarakan tentang kinerja apa yang baik dan menteri mana yang di-reshuffle," tandas La Ode.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau