Kunjungan ke Yunani, Bagi-bagi Jatah?

Kompas.com - 21/10/2010, 17:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kunjungan kerja Badan Kehormatan DPR RI ke Yunani untuk belajar kode etik terkesan seperti bagi-bagi jatah perjalanan ke luar negeri.

Hal ini setidaknya secara implisit terungkap dari pengakuan Wakil Ketua DPR RI Priyo Budi Santoso yang juga politisi Partai Golkar kepada para wartawan, Kamis (21/10/2010) di Gedung DPR RI.

"Kami tidak punya wewenang banyak untuk mencoret rencana kunjungan kerja ke luar negeri. Terlebih kalau ternyata seumur-umur badan tersebut belum pernah kunker (kunjungan kerja) ke luar negeri, sementara komisi lain sudah pernah. Pimpinan (DPR) juga takkan enak hati menolaknya," ujarnya.

Wah, itu bagi-bagi jatah dong? "Ya, pada intinya, kami dari pimpinan tidak boleh semena-mena untuk membatalkan tanpa alasan yang legal dan berdasarkan kepatutan. Mereka belum pernah kunjungan ke luar negeri. Pastilah kalau Anda di posisi pimpinan, Anda juga merasa tak enak hati," sambung Priyo lagi.

Namun, sambungnya, pimpinan telah memberikan catatan agar BK harus mengungkapkan maksud dan tujuan kunjungan kerja ke luar negeri di depan publik melalui pers.

Mereka juga diminta mengumumkan hasil kunjungan kerja sepulang ke Tanah Air. "Ini catatan yang kami berikan dengan tinta emas, perak, atau tinta merah," ucap Priyo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau