Forum

Meningkatkan Kesadaran atas Pangan Aman

Kompas.com - 22/10/2010, 06:04 WIB

Oleh EDY S KOTTO

Kisruh penarikan mi instan produksi salah satu perusahaan Indonesia di Taiwan terjadi karena negara tersebut mempersoalkan zat pengawet yang salah satunya bernama nipagin atau methyl p-hydroxybenzoate. Kisruh ini juga sempat menjadi wacana luas di masyarakat Jawa Timur.

Padahal, Codex Alimentarius Commission (CAC), badan yang didirikan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengatur standar pangan, telah memperbolehkan pemakaian zat pengawet ini dalam batas-batas tertentu. Tentunya, tidak semua masyarakat awam di Jatim mengetahui secara jelas duduk persoalannya.

Lebih lanjut, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Senin (11/10/2010), menyata- kan bahwa Indonesia berpatok- an pada CAC dan mengizin- kan penggunaan nipagin dalam batas tertentu. Menurut BPOM, penggunaan nipagin pada mi instan yang beredar di Indonesia saat ini masih dalam batas kendali.

Pernyataan aman dari BPOM tersebut tentunya melegakan kita semua karena memang masih dalam batas kendali. Namun, yang perlu dipahami oleh masyarakat Jatim adalah perlunya pemahaman dan kesadaran akan bahan pangan aman itu seperti apa. Masyarakat diharapkan bisa lebih kritis dan hati-hati sebelum mengonsumsi pangan olahan, bukan hanya karena ada kisruh mi instan saja.

Yang sering menjadi perta- nyaan ialah apakah bahan tambahan pangan (food addictive) yang ada di produk aman atau tidak? Masih saja banyak anggota masyarakat bertanya-tanya, sebenarnya apakah efek bahan tambahan pangan bagi tubuh? Bahan tambahan pangan, termasuk pengawet pada dasarnya adalah aman sepanjang masih dalam batas-batas yang telah ditetapkan oleh CAC ataupun standar BPOM serta tidak dikonsumsi berlebihan.

Di antara bahan tambahan pangan umum yang perlu diketa- hui masyarakat, yakni pengawet natrium benzoat, sulfit, nitrat, dan nitrit, yang mana bertuju- an untuk mencegah pertum- buhan mikroba pada produk pangan. Bahan tambahan ini sering dipakai pada produk minuman, kecap, dan sirup. Bahan tambahan pangan lain, yaitu antioksidan, seperti asam askorbat (vitamin C) dan tokoferol (vitamin E), bertujuan untuk mencegah tengik pada produk pangan. Bahan ini sering dipakai pada minyak goreng dan margarin.

Jenis lain, yaitu pewarna buatan seperti pewarna kuning (sunset yellow), pewarna biru dan merah yang bertujuan membuat makanan mempunyai tampilan visual menarik. Bahan tambahan pangan lainnya, yaitu stabilisator, pengental, dan emulsifier. Bahan ini ditambahkan ke makanan untuk me- ningkatkan kelancaran dan volume serta untuk memperbaiki tekstur makanan, seperti jeli, es krim, dan produk – produk coklat.

Selain pengetahuan akan bahan pangan, masyarakat Jatim juga harus mengetahui akan bahaya – bahaya lainnya, seperti bahaya dari aspek biologi, kimia, dan fisik. Secara ilmiah, mamin dianggap masih layak dan aman untuk dikonsumsi jika mamin tersebut tidak mengandung bahaya terhadap kesehatan manusia.

Bahaya-bahaya ini dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu pertama disebut bahaya biologi (biologycal hazard), kedua bahaya kimia (chemical hazard) serta ketiga bahaya fisik (physical hazard).

Waspada

Langkah - langkah yang paling utama yang perlu diperhatikan untuk menghindari ketiga jenis bahaya tersebut adalah selalu waspada dalam hal membeli ataupun mengolah bahan pangan. Ciri-ciri yang wajib diketahui adalah mewaspadai tampilan fisik mamin, masa kedaluwarsa dan kandungan makananan itu sendiri (mengandung bahan atau pengawet berbahaya atau tidak).

Untuk tampilan fisik, hin- darilah mamin yang sudah kelihatan cacat fisik, seperti kemasan penyok dan bocor. Selalu lihat tanggal kedaluwarsanya. Jika sudah lewat, jangan memaksakan untuk membeli walaupun ada tawaran diskon yang cukup besar.

Dalam hal membeli bahan pangan segar, masyarakat juga harus waspada, misalnya memilih daging yang segar (tidak berubah warna dan lembek serta tidak berbau busuk), tidak membeli ayam ataupun ikan segar yang mengandung formalin, atau- pun memasak beras yang banyak mengandung batu kerikil atau pasir.

Selain dari peningkatan kewaspadaan dari masyarakat, diperlukan juga tanggung jawab dari produsen dan penjual mamin dalam hal menghasilkan mamin yang aman dan layak untuk dikonsumsi (fit and safe to consume). Janganlah hanya demi mengejar keuntungan, produsen mengorbankan kesehatan masyarakat.

Kepedulian dan kewaspadaan masyarakat luas akan bahan pangan aman sangat diperlukan.

Edy S Kotto Pemerhati Industri Pangan dan AlumnusInstitut Pertanian Bogor

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau