Metode Kanguru Atasi Bayi Berbobot Rendah

Kompas.com - 22/10/2010, 13:33 WIB

Garut, Kompas - Rendahnya berat bayi yang baru lahir dan hipotermia menjadi faktor dominan penyebab kematian bayi di Kabupaten Garut. Untuk mengatasi masalah bayi berat lahir rendah (BBLR) ini, perawatan metode kanguru bisa diterapkan seperti yang selama ini dilakukan di sejumlah puskesmas di Kabupaten Garut.

Dokter di Puskesmas Bayongbong, Garut, Dwi Hadi Santoso, Kamis (21/10), mengatakan, hampir 50 persen kematian bayi di Bayongbong disebabkan oleh kasus BBLR dan hipotermia.

Bidan Koordinator Puskesmas Bayongbong Eri Fitriani memaparkan, sampai September 2010 di puskesmas yang melayani sembilan desa ini terdapat 717 persalinan dengan jumlah bayi yang lahir berbobot rendah sebanyak 34 orang. Sementara dari 15 kematian bayi tahun ini, enam di antaranya disebabkan oleh kasus BBLR.

Asupan gizi

Menurut Dwi, pada umumnya BBLR disebabkan oleh asupan gizi, pola hidup, dan aktivitas sehari-hari sang ibu. Hipotermia dapat diakibatkan oleh kelirunya penanganan bayi setelah dilahirkan. Misalnya, kebiasaan dukun memandikan bayi bisa menurunkan suhu tubuh bayi yang berujung pada kematian.

Bayi yang lahir dengan bobot di bawah 2.500 gram dan bersuhu badan kurang dari 26,5 derajat celsius dapat ditolong dengan perawatan metode kanguru (PMK). Metode ini bisa digunakan sebagai pengganti perawatan dengan inkubator. Caranya, popok dan tutup kepala dikenakan pada bayi yang baru lahir. Bayi kemudian diletakkan di antara payudara ibu dan ditutupi baju ibu yang berfungsi sebagai kantong kanguru. Posisi bayi tegak ketika ibu berdiri atau duduk, dan tengkurap atau miring ketika ibu berbaring.

"Jika bayi berbobot rendah dilahirkan di Puskesmas Bayongbong, kami menerapkan metode kanguru sampai 2 x 24 jam setelah persalinan. Sebelum pulang, kondisi bayi harus stabil. Suhu tubuhnya di atas 36,5 derajat celsius. Anggota keluarga bisa melakukan metode ini secara mandiri sehingga bisa melakukannya di rumah," tutur Dwi.

Bidan Puskesmas Bayongbong Dedeh Hamidah mengatakan, penerapan PMK bermanfaat terutama bagi bayi yang lahir dengan berat rendah dan mengalami hipotermia. Bayi-bayi ini biasanya dari pelosok daerah yang sulit dijangkau karena kondisi infrastruktur jalan rusak dan letak geografisnya berat.

"Di daerah yang jauh dari puskesmas, banyak bayi yang meng-alami hipotermia bisa tertolong tanpa menggunakan inkubator, tetapi cukup dengan menerapkan metode kanguru," ujarnya.

Puskesmas Bayongbong merupakan puskesmas pertama di Garut yang memiliki klinik PMK. Selain di Puskesmas Bayongbong, klinik PMK juga terdapat di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dan RS Dr Sardjito, DI Yogyakarta.

Di Bayongbong, PMK disosialisasikan ke bidan dan kader pos-yandu di desa. "Sosialisasi dilakukan berjenjang kepada masyarakat," ujar Dedeh. (adh)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau