Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki belum lama ini melawat ke sejumlah negara untuk mencari dukungan bagi upaya menduduki kembali kursi PM Irak dalam pemerintahan baru mendatang. Al-Maliki di antaranya mengunjungi Suriah, Jordania, Iran, Mesir, dan Turki.
Pemimpin Koalisi Daftar Irak Iyad Allawi (pesaing utama Al-Maliki) dua pekan lalu juga mengadakan lawatan ke sejumlah negara, seperti Mesir, Suriah, Kuwait, dan Arab Saudi.
”Politisi Irak tidak merespons saran AS. Kami tidak membayar dengan memberikan perhatian besar kepada mereka (AS). Lemahnya pengaruh AS itu memberi negara-negara tetangga peluang untuk mengembangkan lebih besar sayap pengaruhnya dalam urusan Irak,” ujar anggota parlemen dari Koalisi Negara Hukum pimpinan Nouri al-Maliki, Sami al-Ansari, seperti dikutip kantor berita AP, Kamis (21/10).
Menurut anggota parlemen dari Kurdistan, Mahmoud Othman, Duta Besar Iran di Irak lebih besar pengaruhnya daripada Wakil Presiden AS Joe Biden.
Joe Biden dikenal sebagai arsitek politik AS di Irak pada era pemerintahan Presiden Barack Obama saat ini. Biden kerap melakukan lobi dengan politisi Irak dan telah melakukan enam kali kunjungan ke Irak selama dua tahun terakhir ini.
Analis politik harian Al Hayat, Raghida Dargam, mengatakan, AS telah menjalin kesepahaman dengan Iran dan Suriah untuk mengantarkan Nouri al-Maliki, yang partainya menduduki posisi kedua pada pemilu legislatif bulan Maret, untuk kembali menduduki posisi PM Irak.
Koalisi Negara Hukum pimpinan Nouri al-Maliki meraih 89 kursi parlemen, di bawah Koalisi Daftar Irak pimpinan tokoh Syiah sekuler, Iyad Allawi, yang meraih 91 kursi.
Menurut Dargam, AS terpaksa melakukan kompromi dengan Iran soal figur penjabat PM Irak mendatang demi menyelamatkan proses politik ciptaan AS di Irak setelah tumbangnya Saddam Hussein.
Sementara itu, Iran berusaha dengan segala cara untuk mendudukkan kembali Nouri al-Maliki sebagai PM Irak untuk menjaga dominasi Syiah loyalis Iran di pentas politik Irak setelah tumbangnya Saddam Hussein.
Iran telah kehilangan kepercayaan kepada Iyad Allawi yang dianggap terlalu jauh main mata dengan kaum Sunni Irak. Allawi sendiri tidak pernah berkunjung ke Iran sejak pemilu legislatif di Irak bulan Maret lalu.
Harian Inggris The Guardian edisi Senin mengungkapkan, Iran berhasil melakukan perundingan dari balik layar dengan sejumlah kekuatan politik regional untuk mengusung Nouri al-Maliki kembali menjabat PM Irak.
Harian Asharq Al Awsat mengungkapkan, Iran kini tengah menekan Majelis Tinggi Islam pimpinan Ammar Hakim untuk mendukung kembali Nouri al-Maliki menjadi PM Irak dan ikut serta dalam koalisi pemerintahan Irak mendatang pimpinan PM Al-Maliki.
Ammar Hakim, yang dikenal loyalis Iran, sampai saat ini menolak tekanan Iran dan masih mendukung Iyad Allawi menjabat PM Irak mendatang.
Dalam konteks isu Irak, AS dan Iran ternyata tidak mesti bertarung. Di dalam negeri Irak, kepentingan AS-Iran sering memiliki titik temu.
Nouri al-Maliki berpeluang lebih besar untuk kembali menjabat PM Irak jika dibandingkan dengan pesaing utamanya, Iyad Allawi, lantaran terjadi titik temu kepentingan Iran-AS. Iran sangat mendukung Nouri al-Maliki menjabat kembali PM Irak. AS tidak menolak siapa pun tokoh Irak, termasuk Nouri al-Maliki, menjabat PM Irak. (Ap/MTH)