Nurrachman (50), petani karet Desa Air Batu, Talang Kelapa, Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (20/10), menggenggam erat uang hasil penjualan getah karet yang baru dibayarkan seorang pengepul keliling. Setelah si pengepul pergi, senyum riang langsung terpancar dari wajah legamnya.
”Kito ni senang nian man penjualannyo getah pecak naik dua kali cak ini. Kami petani jugo la rindu nian nak dapet penghasilan baik cak dulu tu (Saya senang karena penghasilan dari berjual getah naik dua kali lipat dari bulan lalu. Kami petani sudah rindu memperoleh penghasilan baik seperti dulu),” kata Nurrachman.
Hampir sepekan terakhir, harga jual getah karet di Sumatera Selatan melejit menjadi Rp 12.000-12.500 per kilogram. Sebelumnya, hampir selama
Berdasarkan hasil pemantauan di sejumlah kabupaten/kota di Sumsel, kenaikan harga getah karet terjadi serentak di berbagai sentra perkebunan rakyat, antara lain di Desa Sembawa dan Air Batu (Kabupaten Banyuasin) serta Kelurahan Alang-alang Lebar dan Gandus (Kota Palembang). Di Banyuasin, harga jualnya Rp 12.500, sedangkan di Kota Palembang
Bagi Nurrachman dan petani lainnya, harga jual itu merupakan harga tertinggi yang dirasakan sejak sektor ini terpuruk akibat krisis global dua tahun lalu. Pertengahan tahun 2008, harga jual getah karet anjlok dari Rp 11.000 menjadi Rp 3.000 per kg. Awal tahun 2009, harganya sempat menanjak menjadi Rp 6.000 per kg. Namun, akhir tahun 2009 harganya turun lagi menjadi Rp 4.000.
Baru sejak awal tahun ini harga getah karet menggembirakan, mulai dari Rp 8.000 hingga kini Rp 12.500 per kg.
Berdasarkan data Dinas Perkebunan Sumsel, hampir 80 persen atau 1,8 juta hektar dari total 2 juta lahan karet di Sumsel saat ini dikuasai petani rakyat. Sementara sisanya yang 0,2 juta hektar dimiliki kalangan pemodal swasta dan badan usaha pemerintah.
Menurut Syamuil Chatib, pengamat perkebunan dari Palembang, data itu menunjukkan bahwa subsektor perkebunan karet di Sumsel memiliki peran penting karena menjadi salah satu pilar perekonomian daerah. Alasannya, mayoritas pelaku usahanya berasal dari rakyat. Kondisi ini berbeda dengan kelapa sawit, yang sebagian besar dikuasai pemodal swasta dan badan usaha pemerintah.
Membaiknya harga jual karet juga berarti ada peluang untuk kembali menghidupkan sendi ekonomi kerakyatan. Hal ini dengan mempertimbangkan sumbangan pendapatan asli daerah (PAD) dari subsektor perkebunan karet yang mencapai Rp 35 miliar pada tahun 2009.
”Jika harga getah karet anjlok, seperti yang terjadi pada 2008 lalu, terlihat betapa sengsaranya petani. Mereka terlilit utang, tak mengurusi kebun, bahkan tak jarang menjual kebunnya untuk bertahan hidup,” kata Syamuil.
Sebagian besar petani karet rakyat, terutama pemilik lahan, tentu menyambut gembira kenaikan harga jual getah karet ini. Mereka berharap kenaikan harga jual bisa bertahan dalam waktu lama sehingga pendapatan petani terus membaik.
Menurut Lutfi Rizal (39), petani karet di Alang-alang Lebar, Palembang, jika harga jual stabil, yakni di atas Rp 12.000 per kg, hal itu akan menarik minat petani untuk tetap menggarap
”Saat harga jatuh di bawah Rp 5.000 per kg, pendapatan saya turun drastis. Dampaknya, kami tak bisa meremajakan pohon karet yang usianya lebih dari 20 tahun. Tetapi, kini saya gembira lagi karena bisa mengurus kebun dan mulai menutup utang-utang,” katanya.
Saat ini Lutfi juga memulai meremajakan satu dari dua bidang kebun karetnya. Sebanyak 1.000 bibit tanaman karet berusia empat tahun dibelinya dari seorang penangkar di Kabupaten Lahat. Bibit itu sudah disebarnya di lahan seluas 2 hektar. ”Karena membaiknya harga jual inilah, saya bisa mengalokasikan dana tabungan sebanyak Rp 4 juta untuk membeli 1.000 bibit karet,” ujar Lutfi.
Jika mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, lonjakan harga getah karet di Indonesia dipicu mulai membaiknya ekspor ke sejumlah negara, terutama Eropa dan Amerika Serikat. Hal ini seiring mulai stabilnya kegiatan usaha di bidang otomotif yang selama ini menjadi pemasok utama karet asal Sumsel.
Menurut Kepala BPS Sumsel Haslani Haris, kenaikan ekspor karet tercatat sejak Oktober 2009 sampai September 2010. ”Oktober 2009 nilai transaksi ekspor karet Sumsel naik menjadi 113,76 juta dollar AS. September 2010, nilai transaksinya melejit menjadi 221,15 juta dollar AS. Dari semua komoditas perkebunan, karet berkontribusi terbesar, yakni 72,2 persen,” ujar Haslani.
Kalangan petani tentu berharap era kejayaan usaha karet, seperti yang terjadi tahun 2003- 2006, terulang lagi. Waktu itu harga jual getah karet bisa menembus Rp 16.000 per kg. Jika itu terwujud, setidaknya sektor ekonomi kerakyatan di Sumsel bisa menggeliat kembali.