Perkebunan

Era Kebangkitan Karet Rakyat Sumatera Selatan

Kompas.com - 23/10/2010, 04:42 WIB

Nurrachman (50), petani karet Desa Air Batu, Talang Kelapa, Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (20/10), menggenggam erat uang hasil penjualan getah karet yang baru dibayarkan seorang pengepul keliling. Setelah si pengepul pergi, senyum riang langsung terpancar dari wajah legamnya.

”Kito ni senang nian man penjualannyo getah pecak naik dua kali cak ini. Kami petani jugo la rindu nian nak dapet penghasilan baik cak dulu tu (Saya senang karena penghasilan dari berjual getah naik dua kali lipat dari bulan lalu. Kami petani sudah rindu memperoleh penghasilan baik seperti dulu),” kata Nurrachman.

Hampir sepekan terakhir, harga jual getah karet di Sumatera Selatan melejit menjadi Rp 12.000-12.500 per kilogram. Sebelumnya, hampir selama dua bulan harga jual getah karet bertahan pada angka Rp 8.000-Rp 9.000 per kg.

Berdasarkan hasil pemantauan di sejumlah kabupaten/kota di Sumsel, kenaikan harga getah karet terjadi serentak di berbagai sentra perkebunan rakyat, antara lain di Desa Sembawa dan Air Batu (Kabupaten Banyuasin) serta Kelurahan Alang-alang Lebar dan Gandus (Kota Palembang). Di Banyuasin, harga jualnya Rp 12.500, sedangkan di Kota Palembang Rp 12.000 per kg.

Bagi Nurrachman dan petani lainnya, harga jual itu merupakan harga tertinggi yang dirasakan sejak sektor ini terpuruk akibat krisis global dua tahun lalu. Pertengahan tahun 2008, harga jual getah karet anjlok dari Rp 11.000 menjadi Rp 3.000 per kg. Awal tahun 2009, harganya sempat menanjak menjadi Rp 6.000 per kg. Namun, akhir tahun 2009 harganya turun lagi menjadi Rp 4.000.

Baru sejak awal tahun ini harga getah karet menggembirakan, mulai dari Rp 8.000 hingga kini Rp 12.500 per kg.

Dampak positif

Berdasarkan data Dinas Perkebunan Sumsel, hampir 80 persen atau 1,8 juta hektar dari total 2 juta lahan karet di Sumsel saat ini dikuasai petani rakyat. Sementara sisanya yang 0,2 juta hektar dimiliki kalangan pemodal swasta dan badan usaha pemerintah.

Menurut Syamuil Chatib, pengamat perkebunan dari Palembang, data itu menunjukkan bahwa subsektor perkebunan karet di Sumsel memiliki peran penting karena menjadi salah satu pilar perekonomian daerah. Alasannya, mayoritas pelaku usahanya berasal dari rakyat. Kondisi ini berbeda dengan kelapa sawit, yang sebagian besar dikuasai pemodal swasta dan badan usaha pemerintah.

Membaiknya harga jual karet juga berarti ada peluang untuk kembali menghidupkan sendi ekonomi kerakyatan. Hal ini dengan mempertimbangkan sumbangan pendapatan asli daerah (PAD) dari subsektor perkebunan karet yang mencapai Rp 35 miliar pada tahun 2009.

”Jika harga getah karet anjlok, seperti yang terjadi pada 2008 lalu, terlihat betapa sengsaranya petani. Mereka terlilit utang, tak mengurusi kebun, bahkan tak jarang menjual kebunnya untuk bertahan hidup,” kata Syamuil.

Sebagian besar petani karet rakyat, terutama pemilik lahan, tentu menyambut gembira kenaikan harga jual getah karet ini. Mereka berharap kenaikan harga jual bisa bertahan dalam waktu lama sehingga pendapatan petani terus membaik.

Menurut Lutfi Rizal (39), petani karet di Alang-alang Lebar, Palembang, jika harga jual stabil, yakni di atas Rp 12.000 per kg, hal itu akan menarik minat petani untuk tetap menggarap kebun. Selain itu, membaik- nya harga jual juga bisa mendukung program peremajaan karet rakyat.

”Saat harga jatuh di bawah Rp 5.000 per kg, pendapatan saya turun drastis. Dampaknya, kami tak bisa meremajakan pohon karet yang usianya lebih dari 20 tahun. Tetapi, kini saya gembira lagi karena bisa mengurus kebun dan mulai menutup utang-utang,” katanya.

Saat ini Lutfi juga memulai meremajakan satu dari dua bidang kebun karetnya. Sebanyak 1.000 bibit tanaman karet berusia empat tahun dibelinya dari seorang penangkar di Kabupaten Lahat. Bibit itu sudah disebarnya di lahan seluas 2 hektar. ”Karena membaiknya harga jual inilah, saya bisa mengalokasikan dana tabungan sebanyak Rp 4 juta untuk membeli 1.000 bibit karet,” ujar Lutfi.

Jika mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, lonjakan harga getah karet di Indonesia dipicu mulai membaiknya ekspor ke sejumlah negara, terutama Eropa dan Amerika Serikat. Hal ini seiring mulai stabilnya kegiatan usaha di bidang otomotif yang selama ini menjadi pemasok utama karet asal Sumsel.

Menurut Kepala BPS Sumsel Haslani Haris, kenaikan ekspor karet tercatat sejak Oktober 2009 sampai September 2010. ”Oktober 2009 nilai transaksi ekspor karet Sumsel naik menjadi 113,76 juta dollar AS. September 2010, nilai transaksinya melejit menjadi 221,15 juta dollar AS. Dari semua komoditas perkebunan, karet berkontribusi terbesar, yakni 72,2 persen,” ujar Haslani.

Kalangan petani tentu berharap era kejayaan usaha karet, seperti yang terjadi tahun 2003- 2006, terulang lagi. Waktu itu harga jual getah karet bisa menembus Rp 16.000 per kg. Jika itu terwujud, setidaknya sektor ekonomi kerakyatan di Sumsel bisa menggeliat kembali. (ONI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau